Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Purbaya Kembali Guyur Rp100 Triliun Likuiditas Bank, OJK: Tekan Biaya Bunga 
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Halal Bihalal bersama Media. (IDN Times/Triyan).
  • Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambah likuiditas perbankan sebesar Rp100 triliun dari Saldo Anggaran Lebih untuk menjaga kestabilan sistem keuangan menjelang Idul Fitri.
  • Kenaikan yield obligasi hingga 0,4 persen menjadi sinyal kekeringan likuiditas, mendorong pemerintah menyuntikkan total Rp300 triliun ke perbankan sejak September 2025 guna menahan tekanan pasar.
  • OJK menilai kebijakan ini membantu menekan biaya bunga bank dan mempercepat penyesuaian suku bunga kredit serta simpanan agar lebih selaras dengan arah kebijakan BI Rate.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta,FORTUNE – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali mengguyur likuiditas perbankan melalui penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah senilai Rp100 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan Bank Jakarta.

Ia menilai likuiditas perbankan nasional tengah kering lantaran dinamika pasar di tengah meningkatnya kebutuhan dana tunai di masyarakat saat Hari Raya Idul Fitri. “Seminggu sebelum Lebaran, saya tambah lagi Rp100 triliun, memasukkan ke sistem perekonomian. Kita jaga likuiditas di sistem keuangan dengan serius,” kata Purbaya dilansir Antaranews yang dikutip di Jakarta, Kamis (26/3).

Kementerian Keuangan juga terus memantau kenaikan imbal hasil (yield) obligasi yang mengindikasikan adanya tekanan likuiditas di perbankan. Purbaya mengungkapkan, yield obligasi tercatat telah naik kisaran 0,4 persen.

“Kalau bond yield naik 0,1 persen saya udah perhatikan. Ini naik 0,4 persen, pasti kekeringan, kekurangan likuiditas di bank. Saya cek, oh betul bank kurang (likuiditas). Saya tambah lagi masukin ke sistem,” kata Purbaya.

Menurutnya, penempatan dana di perbankan juga dapat berdampak pada pasar obligasi, terutama dalam menahan kenaikan yield. Dengan demikian, secara total Pemerintah telah menyuntikan dana ke perbankan senilai Rp300 triliun sejak September 2025.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Edaian Rae, menilai penempatan dana SAL ke perbankan dapat menekan biaya bunga bank yang pada ujungnya menurunkan bunga special rate kepada deposan-deposan besar.

Dengan adanya kebijakan ini, persaingan bank dalam mendapatkan dana murah menjadi tidak terlalu keras. Dengan demikian, transmisi kebijakan BI Rate terhadap suku bunga bank akan segera tercapai.

“Itu yang sangat membantu bank, sehingga kecenderungan nanti (bunga kredit) mengikuti BI Rate itu akan bisa tercapai dengan lebih cepat,” kata Dian.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat, suku bunga kredit dan suku bunga simpanan masih mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Januari 2026 sebesar 8,79 persen, sedikit menurun dibandingkan suku bunga kredit bulan sebelumnya sebesar 8,80 persen. 

Sementara itu, suku bunga simpanan berjangka juga menurun terutama pada tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan, masing-masing sebesar 4,20 persen, 4,66 persen, 4,62 persen, dan 4,52 persen dibandingkan dengan 4,31 persen, 4,69 persen, 4,73 persen, dan 4,63 persen pada Desember 2025.

Editorial Team

EditorEkarina .