Jakarta, FORTUNE - PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencetak laba bersih senilai Rp3,6 triliun pada sepanjang 2025, relatif stagnan dibandingkan laba tahun sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 0,6 persen.
Meski demikian, dari sisi pendapatan Permata Bank merih Rp12,6 triliun atau meningkat 3,8 persen secara tahunan, dengan pendapatan non bunga mencapai Rp2,6 triliun, tumbuh 34,1 persen.
Di sisi neraca, total aset Bank meningkat 3,6 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp268,3 triliun. Sementara simpanan nasabah alias dana pihak ketiga tumbuh 3,9 persen YoY menjadi Rp192,8 triliun, didukung oleh pertumbuhan CASA sebesar 20,1 persen sehingga rasio CASA meningkat menjadi 63,9 persen.
Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, Rudy Basyir Ahmad, menyampaikan pertumbuhan pendapatan serta kualitas aset perseroan tetap terjaga adalah hasil dari konsisten menempatkan nasabah serta dukungan penuh dari Bangkok Bank.
"Kami yakin dengan tetap menjaga skala dan relevansi, Permata Bank dapat terus tumbuh berkelanjutan serta menjadi bank pilihan dan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan finansial sehari-hari," katanya dalam paparan kinerja BNLI, Kamis (12/3).
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Permata Bank tumbuh 5,5 persen YoY menjadi Rp163,3 triliun, dengan kontribusi utama dari segmen korporasi yang meningkat 11,2 persen YoY menjadi Rp99,6 triliun. Kualitas kredit tetap terjaga stabil dengan rasio NPL Gross di level 2,1 persen dan Loan at Risk (LAR) membaik menjadi 6,3 persen.
Permata Bank mempertahankan tingkat pencadangan yang konservatif dengan rasio NPL Coverage sebesar 356 persen dan LAR Coverage sebesar 118 persen. Rudy menyebut perseroan secara proaktif melakukan restrukturisasi, litigasi, dan penjualan aset untuk penyelesaian kredit bermasalah.
Di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global, bank yang termasuk KBMI III ini juga diklaim berhasil menjaga likuiditas dan permodalan yang kuat untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Rasio Loan-to-Deposit (LDR) tercatat 84,5 persen, sementara rasio likuiditas Basel III berada jauh di atas batas minimum dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) rata-rata 296,5 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 126,8 persen. Struktur permodalannya juga sangat solid, dengan rasio CAR sebesar 34,6 persen dan CET-1 sebesar 26,6 persen.
Sementara itu, Unit Usaha Syariah perseroan membukukan kinerja solid. Sepanjang 2025, UUS Permata Bank mencatat laba operasional sebelum provisi sebesar Rp785,3 miliar, tumbuh 8,1 persen YoY. Pertumbuhan ini didukung dengan Pendapatan Setelah Distribusi Bagi Hasil yang tumbuh mencapai 6,4 persen YoY dan konsistensi pengendalian biaya dengan baik.
