Jakarta, FORTUNE - Di tengah ketidakpastian ekonomi, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) membidik pertumbuhan kredit 50-60 persen persen dibandingkan realisasi 2025. Di saaat yang sama, perseroan juga menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga sebear 50-60 persen secara tahunan.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan mengatakan, target tersebut opstimis bisa dicapai pada tahun ini melalui sejumlah strategi.
"Growth dari pencapaian, kami fokus ke ekosistem dari segi penetrasi terhadap Grab, OVO akan terus kami dalami," kata Tigor dalam konfrensi press RUPST tahun buku 2025, di Jakarta, Senin (27/4).
Meski demikia, ia tidak menampik tantangan ekonomi masih membayangi, terutama akibat konflik Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok, harga minyak, hingga nilai tukar rupiah. Indonesia pun dinilai tidak sepenuhnya kebal terhadap situasi global itu.
Namun, Tigor menilai ruang ekspansi kredit di Indonesia masih sangat besar. Hal ini tercermin dari rasio kredit terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di kisaran 35 persen, jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Dengan rendahnya tingkat penetrasi tersebut, bank tersebut masih memiliki peluang untuk memperluas penyaluran kredit. Karena itu, meskipun ketidakpastian global masih berlanjut, arah bisnis tetap jelas, yakni mendorong peningkatan akses pembiayaan di dalam negeri.
"Akses terhadap kredit itu harus tetap terbuka. Kesempatan-kesempatan bagi masyarakat di bawah yang undeserved itu harus kita buka," ujar dia.
Untuk mengantisipasi risiko, Superbank juga melakukan berbagai uji ketahanan terhadap sejumlah indikator makro. "Kami melakukan multiple stress mengantisipasi hingga sejauh mana nilai tukar rupiah dapat bergerak, suku bunga bisa sampai berapa, harga minyak sampai berapa. Bagaimana dengan nasabah-nasabah di kita, nasabah di Indonesia secara umumnya," ujar dia.
Oleh karenanya, bank yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank dan GXS, ini tetap optimistis kinerja tumbuh dengan peluang di segmen underserved.
Selain itu, sebagai bank digital, SUPA membaca dan menganalisa dinamika bisnis lewat digital, yang diklaim hasilnya lebih cepat. Tigor menyebut, perseroan dapat memantau kinerja dan perilaku transaksi secara real-time tanpa harus menunggu laporan kuartalan. Sehingga analisa lebih tajam dalam mendukung pengambilan keputusan bisnis.
"Kami tahu persis merchants mana yang penjualannnya masih baik, mana yang tiba-tiba turun. Bukannya kita tunggu nih 2 bulan, 3 bulan lagi, tapi sekarang kelihatan transaksinya, kelihatan behavior-nya," jelasnya.
