Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Tanggapi Kenaikan BI Rate, Perbankan Pasang Kuda-kuda Sesuaikan Bunga
ilustrasi ATM BRI (bri.co.id)
  • Kenaikan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen melampaui ekspektasi pasar.

  • Bank Mandiri, BRI, dan BTN segera menyesuaikan strategi dengan memperkuat dana murah, mengatur bunga simpanan serta kredit, dan menjaga keseimbangan likuiditas serta risiko.

  • Data BI menunjukkan suku bunga kredit perbankan mencapai 8,73 persen dan deposito 4,16 persen pada April 2026, dengan pertumbuhan kredit dan DPK masing-masing naik sekitar 10 persen secara tahunan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kenaikan BI Rate mendorong sektor perbankan untuk memperkuat ketahanan dan efisiensi sistem keuangan. Respons cepat Bank Mandiri, BRI, dan BTN menunjukkan kesiapan industri menghadapi dinamika moneter melalui penguatan dana murah, manajemen risiko yang matang, serta strategi pertumbuhan selektif. Langkah-langkah ini mencerminkan komitmen menjaga stabilitas pasar dan keberlanjutan intermediasi perbankan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada Mei 2026. Kebijakan moneter melampaui prediksi mayoritas konsensus analis yang memperkirakan kenaikan hanya sebesar 25 bps.

Kenaikan suku bunga yang mendadak ini membuat sektor perbankan segera berbenah dan memasang kuda-kuda. Mereka bersiap melakukan penyesuaian tingkat suku bunga. Fokus utama para pelaku industri kini beralih pada penguatan pundi-pundi dana murah atau current account savings account (CASA).

Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menilai gebrakan bank sentral ini sebagai komitmen kuat. Tujuannya demi menjaga stabilitas pasar keuangan. Langkah ini juga diharapkan mampu meredam laju inflasi. BI dinilai ingin memastikan kecukupan likuiditas demi mendukung intermediasi perbankan ke depan.

Bank berlogo pita emas ini mengaku akan melakukan penyesuaian pada bunga simpanan dan kredit. Namun, kebijakan tersebut dipastikan berjalan dengan penuh perhitungan.

“Setiap penyesuaian suku bunga kredit maupun simpanan akan dilakukan secara terukur, sejalan dengan peran Bank Mandiri sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung ekosistem penggerak ekonomi,” kata Adhika melalui keterangan tertulis kepada Fortune Indonesia (21/5).

Adhika menambahkan, Bank Mandiri tetap berkomitmen mengoptimalkan fungsi intermediasi. Mereka akan menjaga keseimbangan antara kepentingan nasabah, pertumbuhan bisnis yang berkesinambungan, serta kehati-hatian dalam mengelola risiko.

Strategi berbeda diterapkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Bank berkode saham BBRI ini memilih fokus memperkuat struktur pendanaan. Caranya dengan menggenjot raihan dana murah. Manajemen menyadari bahwa kenaikan bunga acuan cenderung mengerek suku bunga deposito hingga simpanan.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan jurus perseroan dalam menghadapi dinamika moneter ini.

“BRI tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas secara berkelanjutan. Perseroan juga terus memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah melalui penguatan ekosistem transaction banking guna menjaga efisiensi biaya dana secara sustain,” kata Dhanny.

BRI juga memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan melalui strategi pertumbuhan selektif (selective growth). Prinsip kehati-hatian tetap menjadi panglima. Khususnya dalam penyaluran kredit ke segmen UMKM dan sektor produktif yang menjadi fokus utama perseroan.

Setali tiga uang, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyatakan kesiapannya menghadapi berbagai skenario kebijakan moneter. Bank yang berkonsentrasi pada kredit perumahan ini bahkan telah menggelar uji ketahanan atau stress test secara berkala. Langkah ini untuk memantau dampak langsung kenaikan bunga acuan terhadap biaya dana.

Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, membeberkan kesiapan manajemen risiko banknya.

“Bank telah memiliki manajemen risiko yang memadai serta melakukan stress test secara berkala dengan mempertimbangkan potensi kenaikan BI Rate yang dapat berdampak pada peningkatan biaya dana atau cost of fund,” jelas Ramon Armando.

Demi menepis sensitivitas terhadap tekanan nilai tukar dan pembengkakan biaya pendanaan, BTN terus menjaga efisiensi struktur pendanaan. Penguatan dana murah kini menjadi ujung tombak strategi funding perseroan.

Berdasarkan data Bank Indonesia sebelum keputusan ini diketok, suku bunga kredit industri perbankan berada pada level 8,73 persen pada April 2026. Sementara itu, suku bunga deposito tenor 1 bulan mencapai 4,16 persen. Bank sentral menyatakan keyakinannya bahwa kebijakan ini justru akan meningkatkan efisiensi bunga perbankan.

Di sisi lain, potret penyaluran kredit perbankan pada April 2026 menunjukkan performa positif. Kredit tumbuh kuat sebesar 9,98 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen (YoY).

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga melonjak sebesar 11,39 persen (YoY) pada April 2026.

Editorial Team