Jakarta, FORTUNE - Investor kawakan Ray Dalio menyampaikan peringatan keras mengenai masa depan sistem keuangan global dalam pidatonya baru-baru ini di Oxford Union. Ia menegaskan bahwa seluruh mata uang fiat utama dunia sedang berada dalam “masalah” akibat beban utang yang tidak berkelanjutan. Pendiri Bridgewater Associates itu memperkirakan dunia tengah memasuki periode devaluasi mata uang yang signifikan, sebanding dengan yang terjadi pada dekade 1930-an dan 1970-an.
Tesis utama Dalio bertumpu pada gagasan bahwa “uang adalah utang”. Ia menjelaskan kepada audiens Oxford bahwa mata uang fiat pada dasarnya merupakan janji untuk menerima pembayaran di masa depan.
Ketika pemerintah menumpuk utang yang sulit ditanggung—seperti Amerika Serikat yang saat ini memikul beban utang sekitar US$38 triliun—maka pada akhirnya negara tersebut akan terdorong untuk mendevaluasi mata uangnya demi membayar kewajiban tersebut.
“Jika Anda mendevaluasi uang, maka Anda mendevaluasi utang,” ujar Dalio, melansir Benzinga. Menurutnya, negara-negara maju kini terjebak dalam siklus di mana mereka tidak mampu menaikkan pajak atau memangkas belanja secara signifikan tanpa memicu gejolak sosial. Akibatnya, para pembuat kebijakan hampir pasti akan memilih mencetak lebih banyak uang, yang pada akhirnya menggerus nilai mata uang tersebut.
Dalio menilai dinamika ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga di negara-negara seperti Inggris dan Prancis. Ia menyoroti tingginya biaya politik dari kebijakan penghematan, dengan merujuk pada Inggris yang telah mengalami pergantian empat perdana menteri dalam lima tahun terakhir sebagai bukti ketidakstabilan akibat tekanan ekonomi.
Kenaikan pajak berisiko mendorong pelarian kekayaan, sementara pemotongan belanja berdampak langsung pada kelompok rentan. Dalam kondisi tersebut, sistem cenderung memilih inflasi sebagai jalan keluar yang paling mudah. Seiring menurunnya kepercayaan terhadap mata uang fiat, Dalio menyoroti perubahan komposisi cadangan global. Ia mencatat bank sentral semakin banyak melepas aset berbasis utang, seperti obligasi pemerintah, dan beralih membeli emas.
Dalio menyebut emas sebagai “uang tertua” sekaligus aset yang tidak terkait dengan kewajiban pihak mana pun. Menurutnya, pergeseran cadangan global ke emas mencerminkan langkah defensif untuk mengantisipasi risiko devaluasi besar-besaran mata uang kertas.
Sepanjang tahun berjalan, Indeks Dolar AS tercatat melemah 9,63 persen. Sebaliknya, harga emas spot dalam denominasi dolar AS justru menembus rekor baru di level US$4.550,11 per ons, melonjak 67,25 persen sepanjang tahun ini. Kondisi ini menunjukkan beralihnya minat investor ke aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian moneter.
Mengutip Economic Times, Ray Dalio juga menarik kesamaan situasi dengan gejolak ekonomi pada era 1930-an dan 1970-an. Dalam unggahan di platform X, ia menyatakan bahwa “emas kini menjadi mata uang cadangan terbesar kedua di dunia, setelah dolar AS,” sebuah sinyal perubahan besar dalam tatanan moneter global.
Dalio menilai sejarah menunjukkan pola yang berulang dalam devaluasi mata uang fiat. Ia membandingkan situasi saat ini dengan peristiwa Nixon shock pada 1970-an dan Depresi Besar 1930-an, ketika hampir seluruh mata uang utama dunia kehilangan nilai terhadap aset keras seperti emas.
“Kita saat ini menghadapi devaluasi mata uang klasik, mirip dengan yang terjadi pada 1970-an atau 1930-an,” ujar Dalio, menegaskan bahwa pelemahan mata uang terhadap emas pernah terjadi dan berpotensi terulang kembali.
