Jakarta, FORTUNE - Merek jam tangan mewah asal Swiss, Breitling dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap puluhan karyawan seiring melemahnya permintaan barang mewah dan meningkatnya biaya operasional.
Dilansir dari Bloomberg, perusahaan milik firma private equity Partners Group dan CVC Capital Partners itu diketahui telah memangkas lebih dari 50 posisi di kantor pusat serta anak usahanya secara global sepanjang tahun ini, menurut sejumlah sumber yang mengetahui kondisi tersebut.
PHK yang mencakup karyawan di divisi sumber daya manusia (HR), pemasaran, hingga keberlanjutan itu merupakan bagian dari langkah efisiensi biaya yang dilakukan Chief Executive Officer (CEO) Georges Kern untuk memulihkan kinerja bisnis perusahaan.
Penguatan mata uang franc Swiss serta tekanan dari tarif impor Amerika Serikat turut menambah tekanan perusahaan di tengah kondisi ekonomi global yang melemah dan menekan permintaan di sejumlah pasar.
Untuk periode 12 bulan yang berakhir pada 31 Maret, Breitling mencatat laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang telah disesuaikan sebesar 162 juta franc Swiss atau sekitar US$208 juta. Nilai ini turun 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara penjualan bersih turun 11 persen menjadi 769 juta franc Swiss.
Sebagian besar penurunan tersebut dipicu oleh dampak nilai tukar. Franc Swiss menjadi salah satu mata uang utama dengan penguatan terbaik sepanjang tahun fiskal lalu, naik lebih dari 10 persen terhadap dolar AS. Padahal, Amerika Serikat merupakan pasar terbesar bagi Breitling.
Selain itu, konflik di Timur Tengah turut mempengaruhi bisnis perusahaan dan membayangi salah satu kawasan yang sebelumnya masih menjadi sumber pertumbuhan pasar jam tangan mewah.
Namun, Breitling dan perwakilan Partners Group menolak memberikan komentar terkait hal tersebut. Sementara juru bicara CVC belum merespons permintaan komentar.
Di bawah kepemimpinan Georges Kern sejak 2017, Breitling memperluas portofolio bisnisnya dengan mengakuisisi dua merek jam tangan. Pada 2023 perusahaan mengakuisisi merek premium Universal Genève, disusul merek entry-level Gallet pada 2025 yang mulai diluncurkan tahun ini.
Namun, biaya ekspansi tersebut menambah kekhawatiran investor di tengah melemahnya permintaan konsumen. Pada Juli lalu, S&P Global Ratings menurunkan peringkat kredit Breitling satu tingkat menjadi B-. Penurunan itu mencerminkan perusahaan dinilai lebih rentan terhadap kondisi bisnis yang memburuk, meski masih memiliki kemampuan memenuhi kewajiban finansialnya.
Pemegang saham terbesar Breitling, Partners Group, juga tengah menjadi sorotan. Pada akhir April, firma short seller Grizzly Research merilis laporan yang menuding adanya valuasi aset berlebihan di portofolio investasi Partners Group. Tuduhan itu dibantah oleh perusahaan yang menyebut laporan tersebut “tidak mendasar, mencemarkan nama baik, dan sangat menyesatkan”, serta tengah mempertimbangkan langkah hukum.
Breitling, yang menjadi sponsor berbagai ajang olahraga seperti National Football League dan tim Formula One Aston Martin Aramco Formula One Team, mulai berada di bawah kepemilikan private equity sejak 2017.
Partners Group memegang 51 persen saham perusahaan, sementara salah satu pendirinya, Alfred Gantner, menjabat sebagai chairman Breitling. Pada Februari lalu, media Financial Times melaporkan bahwa Partners Group dan CVC telah menurunkan valuasi kepemilikannya di perusahaan jam tangan mewah tersebut.
