Gerai Butter Baby di Blok M (dok. Ekarina)
CEO dan Founding Partner Butter Baby, Shane Lewis menambahkan, sebelum masuk ke Indonesia, pihaknya melakukan riset mendalam terhadap demografi anak muda Jakarta, dan juga tren Gen Z di Asia Tenggara, termasuk perilaku, gaya hidup, dan ekspektasi mereka. “Kami melihat adanya kekosongan brand dessert yang kuat dari sisi desain dan pengalaman,” ujar Shane dalam wawancara dengan Fortune Indonesia di bilangan Blok M, Jakarta Selatan.
Jakarta punya energi muda yang luar biasa. Masyarakatnya berani terbuka dengan ide-ide baru—mereka tidak sekadar mengikuti tren, tapi menciptakannya. Dengan demikian, kota tersebut dinilai tepat menjadi lokasi gerai pertama memiliki warna, cerita, dan rasa Butter Baby.
Sebagai pemain baru, Shane sadar, persaingan industri makanan minuman di Indonesia begitu ketat, khususnya di segmen dessert. Ada banyak brand lokal besar yang memiliki posisi kuat. “Karena itu, yang harus kami lakukan adalah terus berkembang dengan menawarkan perpaduan unik antara dessert premium, playful, dan desain yang kuat sebagai pembeda. Inovasi dan kreativitas harus terus didorong, karena kompetisinya memang sangat berkualitas,” katanya.
Ia juga tak menutup mata pada fenomena brand F&B yang sempat viral, lalu redup seiring waktu. Menurut Shane, penurunan hype awal merupakan hal yang wajar. Untuk menjaga konsumen tetap loyal dan selalu datang, Butter Baby secara konsisten melakukan inovasi. “Kami sadar antusiasme di awal pasti akan turun. Kuncinya adalah menjaga inovasi menu tetap berjalan—menghadirkan produk dan varian rasa baru secara konsisten, tetap kreatif, dan berani tampil berbeda dari brand dessert lainnya,” katanya.
Ke depan, Butter Baby tidak hanya mengandalkan produk, tetapi juga pengalaman. Desain toko yang imersif, peluncuran produk dan merchandise edisi terbatas, serta interaksi aktif dengan pelanggan melalui media sosial, storytelling, dan kolaborasi menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Tujuannya sederhana: menjaga relevansi dan memastikan Butter Baby tetap menjadi top of mind di benak konsumen.
Untuk menjaga pertumbuhan bisnis tetap berkesinambungan, Butter Baby bahkan telah merancang strategi ekspansi yang akan dilakukan satu hingga dua tahun ke depan. Setelah hadir di Blok M dan Central Park Mall, Butter Baby akan membuka gerai di Bandara Soekarno-Hatta dan dilanjutkan ekspansi globalnya.
“Butter Baby berencana berekspansi ke kota-kota utama di Indonesia dan Asia Tenggara, termasuk Bangkok dan Malaysia, menyusul pembukaan gerai kami di bandara. Saat ini kami juga sudah berdiskusi dengan mitra lokal di Bangkok, sehingga kemungkinan besar Bangkok akan menjadi destinasi berikutnya pada 2025,” kata Shane.
Dalam setiap gerai baru yang dibagun nanti, menurutnya Butter Baby akan tetap hadir dengan konsep yang sama—mulai dari pengalaman di dalam toko, karakter, hingga merchandise. Hal yang mungkin sedikit membedakan dan disesuaikan dari satu negara ke negara lain hanyalah profil rasa, agar lebih relevan dengan selera lokal. “Di luar itu, konsep Butter Baby akan tetap sama. Kami ingin membawa brand ini ke luar negeri dengan identitas yang utuh,” ujarnya.
Pada Desember lalu, Butter Baby juga menghadirkan pop-up pertamanya di Amerika Serikat. Event bertajuk"'Better Than You Know What'" pengalaman imersif selama tiga hari itu berlangsung pada 12–14 Desember 2025 di Melrose Avenue, Los Angeles. Dalam debutnya di Los Angeles, Butter Baby berkolaborasi dengan grup global Katseye sebagai headline partner dan kolaborasi eksklusif lainnya bersama Mark Tuan dan JasonTheWeen.