Jakarta, FORTUNE - Permintaan busana Muslim kembali meningkat menjelang Ramadan 2026, dengan platform e-commerce mencatat lonjakan di berbagai kategori. Selain pakaian ibadah, tren baru juga muncul pada produk modest activewear yang mencerminkan perubahan gaya hidup konsumen.
Group Head Groceries & Lifestyle Blibli, Krisantia Nugraha, mengatakan kenaikan penjualan terjadi di hampir seluruh segmen busana Muslim, baik perempuan, pria, maupun anak-anak. “Kami melihat untuk masing-masing tipe pakaian adanya peningkatan penjualan jelang Ramadhan. Untuk atasan muslim wanita itu ada peningkatan sebanyak 2 kali lipat,” jelas Krisantia dalam keterangan pers, (12/2).
Ia menilai lonjakan pada segmen perempuan relatif lebih stabil karena pola belanja yang berlangsung sepanjang tahun. “Hal ini artinya bahwa perempuan itu sudah biasa belanja sehari-hari, sehingga pada saat Ramadhan peningkatannya tidak terlalu signifikan,” ungkapnya. Sebaliknya, segmen pria dan anak mencatat pertumbuhan lebih tinggi. Penjualan busana Muslim pria meningkat hingga 2,5 kali lipat, sementara kategori anak laki-laki melonjak sampai tiga kali lipat dibanding periode normal.
“Selain itu, busana Muslim pria juga mengalami peningkatan yang lebih banyak dibanding perempuan, yaitu 2,5 kali lipat. Baju muslim anak perempuan juga 2,5 kali lipat pembelian,” ujarnya.
“Sementara itu, baju muslim anak laki-laki naik 3 kali lipat dibandingkan biasanya. Data ini unik karena ternyata kelompok laki-laki punya peningkatan yang drastis,” kata dia.
Di luar busana Ramadan konvensional, kategori pakaian olahraga Muslim justru mencatat pertumbuhan paling tinggi. Krisantia menyebutkan segmen ini meningkat hingga empat kali lipat.
“Data yang lebih menarik yaitu pakaian active wear atau baju olahraga muslim justru meningkat cukup banyak, yaitu 4 kali lipat lebih banyak, bahkan dibandingkan baju Ramadhan sendiri,” tuturnya. Hal itu menunjukkan banyak konsumen yang ingin tetap aktif dan sehat dengan berolahraga meski di berpuasa. Tren ini didominasi konsumen perempuan usia 18–45 tahun, sementara secara keseluruhan belanja Ramadan masih banyak digerakkan generasi Z yang aktif menggunakan platform digital.