Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Copy of DSC04268.JPG
Dok. Benang Jarum

Jakarta, FORTUNE - Permintaan busana Muslim kembali meningkat menjelang Ramadan 2026, dengan platform e-commerce mencatat lonjakan di berbagai kategori. Selain pakaian ibadah, tren baru juga muncul pada produk modest activewear yang mencerminkan perubahan gaya hidup konsumen.

Group Head Groceries & Lifestyle Blibli, Krisantia Nugraha, mengatakan kenaikan penjualan terjadi di hampir seluruh segmen busana Muslim, baik perempuan, pria, maupun anak-anak. “Kami melihat untuk masing-masing tipe pakaian adanya peningkatan penjualan jelang Ramadhan. Untuk atasan muslim wanita itu ada peningkatan sebanyak 2 kali lipat,” jelas Krisantia dalam keterangan pers, (12/2).

Ia menilai lonjakan pada segmen perempuan relatif lebih stabil karena pola belanja yang berlangsung sepanjang tahun. “Hal ini artinya bahwa perempuan itu sudah biasa belanja sehari-hari, sehingga pada saat Ramadhan peningkatannya tidak terlalu signifikan,” ungkapnya. Sebaliknya, segmen pria dan anak mencatat pertumbuhan lebih tinggi. Penjualan busana Muslim pria meningkat hingga 2,5 kali lipat, sementara kategori anak laki-laki melonjak sampai tiga kali lipat dibanding periode normal.

“Selain itu, busana Muslim pria juga mengalami peningkatan yang lebih banyak dibanding perempuan, yaitu 2,5 kali lipat. Baju muslim anak perempuan juga 2,5 kali lipat pembelian,” ujarnya.

“Sementara itu, baju muslim anak laki-laki naik 3 kali lipat dibandingkan biasanya. Data ini unik karena ternyata kelompok laki-laki punya peningkatan yang drastis,” kata dia.

Di luar busana Ramadan konvensional, kategori pakaian olahraga Muslim justru mencatat pertumbuhan paling tinggi. Krisantia menyebutkan segmen ini meningkat hingga empat kali lipat.

“Data yang lebih menarik yaitu pakaian active wear atau baju olahraga muslim justru meningkat cukup banyak, yaitu 4 kali lipat lebih banyak, bahkan dibandingkan baju Ramadhan sendiri,” tuturnya. Hal itu menunjukkan banyak konsumen yang ingin tetap aktif dan sehat dengan berolahraga meski di berpuasa. Tren ini didominasi konsumen perempuan usia 18–45 tahun, sementara secara keseluruhan belanja Ramadan masih banyak digerakkan generasi Z yang aktif menggunakan platform digital.

Gencarkan strategi omnichannel

Lonjakan permintaan Ramadan juga mendorong brand fesyen mengombinasikan strategi online dan offline. Di sisi ritel fisik, label lokal Benang Jarum membuka pop-up store di Kota Kasablanka mulai 1 Februari hingga 15 April 2026, sebagai bagian dari ekspansi pengalaman belanja musiman.

Creative Director Benang Jarum, Mifthahul Jannah, mengatakan ruang tersebut dirancang untuk memperkuat interaksi langsung dengan konsumen. “Pop-Up Store ini kami hadirkan sebagai ruang untuk merayakan Raya melalui busana yang dekat dengan keseharian. Setiap koleksi Raya Benang Jarum kami rancang dengan pendekatan yang berbeda, namun tetap berangkat dari nilai yang sama: kenyamanan, detail yang bermakna, dan siluet yang bisa dikenakan bersama keluarga,” ujarnya.

Sepanjang periode Februari hingga April 2026, Benang Jarum akan menghadirkan koleksi Raya secara bertahap, dimulai dengan Marchesa Collection pada Januari 2026, disusul Blooming Eid Collection pada Februari 2026, serta The Regal Collection pada Maret 2026. “Kami ingin memberikan kesempatan bagi pelanggan untuk melihat, merasakan, dan mencoba koleksi secara langsung, sekaligus memahami cerita di balik setiap koleksi Raya yang kami hadirkan sepanjang awal tahun ini,” katanya, menambahkan.

Sementara itu, induk Benang Jarum yakni Modinity Group, juga memanfaatkan momentum musiman dengan menggelar Modinity Raya Festival (MRF) pada 19–22 Februari 2026. Modinity sendiri merupakan grup fesyen dan gaya hidup yang menaungi sejumlah merek lokal, antara lain Buttonscarves, Buttonscarves Beauty, Benang Jarum, Nada Puspita, Zyta Delia, dan Calla. Festival tersebut menjadi bagian dari strategi grup untuk memperkuat eksposur portofolio brand sekaligus mendorong interaksi langsung dengan konsumen pada periode belanja puncak Ramadan.

Sementara di kanal digital, sejumlah brand memanfaatkan fitur live streaming dan afiliasi di TikTok Shop by Tokopedia untuk mempercepat penemuan produk oleh konsumen. Produsen mukena Sakura Baru mencatat sekitar 85 persen penjualan daring berasal dari platform tersebut, didorong model afiliasi dengan ribuan kreator konten. Pendiri Sakura Baru, H. Firman, menilai integrasi konten dan transaksi mempersingkat proses belanja selama Ramadan.

Sementara itu, brand denim lokal Jiniso Jeans menyasar konsumen muda melalui kombinasi video pendek, live streaming, dan program afiliasi. Pendiri sekaligus CEO Jiniso Jeans, Roby Chandra, menyebut interaksi langsung selama siaran langsung menjadi faktor penting peningkatan konversi penjualan di periode Ramadan.

Secara industri, momentum Ramadan tetap menjadi pendorong utama sektor fesyen Muslim nasional. Nilai pasar diperkirakan mencapai sekitar US$20 miliar dengan pertumbuhan dua digit per tahun, sementara persaingan kini bergeser dari produksi ke kemampuan brand memastikan produknya mudah ditemukan di tengah banjir pilihan di kanal digital maupun offline.

Editorial Team