Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
LVMH Pertimbangkan Saham Jual Marc Jacobs Hingga Fenty Beauty
potret Rihanna dan Fenty Beauty miliknya (instagram.com/fentybeauty)

Jakarta, FORTUNE - Raksasa barang mewah dunia, Louis Vuitton Moët Hennessy (LVMH), tengah menjajaki penjualan sejumlah aset di sektor fesyen, kecantikan, hingga minuman beralkohol sebagai bagian dari langkah efisiensi di tengah perlambatan industri mewah global.

Beberapa aset yang disebut masuk dalam daftar penjualan antara lain label fesyen Marc Jacobs, kepemilikan saham di brand kecantikan Fenty Beauty milik Rihanna, serta produsen wine asal Amerika Serikat, Joseph Phelps Vineyards, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Jika terealisasi, transaksi tersebut berpotensi menghasilkan miliaran euro yang dapat digunakan kembali untuk memperkuat bisnis inti perusahaan. Langkah itu juga melanjutkan sejumlah divestasi yang telah dilakukan LVMH dalam 18 bulan terakhir.

Perusahaan milik miliarder Bernard Arnault itu sebelumnya telah melepas label streetwear mewah Off-White yang didirikan mendiang desainer Virgil Abloh, bisnis DFS di Greater China, serta kepemilikan 49 persen pada label fesyen Stella McCartney.

Penjualan aset-aset yang dinilai kurang berkinerja tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan biaya di dalam grup yang menaungi lebih dari 75 merek, mulai dari fesyen kelas atas, cognac, hotel, hingga media.

LVMH kini disebut kembali memusatkan perhatian pada merek-merek utama seperti Louis Vuitton dan Dior. Penjualan kedua brand tersebut melambat sejak 2023 setelah lonjakan permintaan barang mewah pada masa pandemi mulai mereda.

Analis Bernstein, Luca Solca, mengatakan tekanan terhadap daya beli konsumen kelas aspiratif, ditambah kenaikan harga agresif oleh merek-merek premium, turut menekan permintaan pasar luxury.

“LVMH jelas sedang meninjau portofolio bisnisnya untuk melihat aset mana yang tidak berkinerja baik dan membebani margin, karena saat ini mereka berada dalam periode ketika tekanan terhadap bisnis semakin besar," ujarnya, melansir CNA Luxury.

Hingga kini, LVMH menolak memberikan komentar terkait kabar tersebut.

Langkah divestasi ini dinilai cukup berbeda dari strategi tradisional Arnault yang selama puluhan tahun membangun LVMH lewat akuisisi besar. Sejak 2000, grup asal Paris itu tercatat melakukan 206 akuisisi, termasuk pembelian perusahaan perhiasan Amerika Serikat Tiffany & Co. senilai US$16 miliar pada 2020 serta akuisisi rumah perhiasan Italia Bvlgari senilai €3,7 miliar pada 2011.

Di sisi lain, selama periode yang sama LVMH juga melepas 122 aset berskala lebih kecil, termasuk brand fesyen Donna Karan dan penjual kemeja Thomas Pink.

“Ini pertama kalinya dalam sejarah LVMH mereka lebih berada dalam mode perampingan dibanding memperbesar portofolio bisnisnya,” ujar seorang analis industri barang mewah. Meski begitu, dengan tingkat utang yang terbatas dan arus kas bebas lebih dari €11 miliar tahun lalu, LVMH dinilai tidak berada dalam tekanan untuk segera menjual asetnya.

Selain aset di bisnis inti, perusahaan juga mempertimbangkan penjualan surat kabar Le Parisien yang diakuisisi pada 2015 dan masih merugi. Menurut sumber dekat perusahaan, dua putra Arnault, Frederic Arnault dan Alexandre Arnault, mendorong penjualan media tersebut.

Salah satu pihak yang disebut tertarik adalah miliarder Prancis Vincent Bollore. Namun, saudara mereka, Antoine Arnault dan Delphine Arnault, dikabarkan memperingatkan bahwa penjualan kepada tokoh bisnis yang dianggap berhaluan kanan dapat memicu sensitivitas politik menjelang pemilu presiden Prancis.

Di tengah penjajakan penjualan aset, LVMH juga masih membuka peluang ekspansi. Grup tersebut tengah mempertimbangkan penawaran untuk membeli saham minoritas di Armani setelah namanya masuk dalam daftar calon pembeli pilihan dalam wasiat pendiri brand tersebut, Giorgio Armani.

Sumber yang mengetahui pembahasan itu mengatakan belum ada kesepakatan internal terkait potensi transaksi tersebut. “Ini akan menjadi proyek perombakan besar dengan kebutuhan investasi modal yang sangat besar setidaknya selama lima tahun agar bisa berjalan efektif,” ujarnya.

Arnault sendiri baru-baru ini menepis spekulasi soal pengunduran dirinya dan menunjukkan keyakinan terhadap masa depan LVMH dengan membeli ratusan ribu saham perusahaan tahun ini. Keluarga Arnault saat ini menguasai sekitar 50 persen saham LVMH.

“Kami memiliki hak untuk menambah kepemilikan saham sedikit lebih banyak. Kami percaya pada apa yang kami lakukan, dan kami menunjukkannya melalui langkah tersebut,” kata Arnault pada Januari lalu.

Editorial Team