Jakarta, FORTUNE – Prinsip Pareto, atau teori 20:80, rupanya juga berlaku di industri kesehatan; 20 persen pasien teratas memberikan kontribusi hingga 80 persen terhadap pendapatan. Meski secara realistis, angkanya memang tak persis. Namun, Presiden Direktur Siloam Hospitals, David Utama, menyebut persentase yang tak jauh berbeda.
Dari Rp6,1 triliun pendapatan yang diperoleh Siloam pada semester I-2025, David menyatakan, “Kontribusi segmen premium ini sekitar 60-70 persen terhadap pendapatan rumah sakit.”
Dalam wawancara dengan Fortune Indonesia (17/10), David menyatakan Siloam Hospitals menaruh perhatian khusus pada segmen eksekutif hingga VVIP. Pelayanan itu diwujudkan dengan menyediakan dokter pribadi, kamar presidential suite, hingga transportasi khusus melalui helikopter.
Helikopter tidak hanya digunakan untuk menjemput pasien gawat darurat, melainkan juga saat pasien dirujuk dari rumah sakit lain dari berbagai lokasi.
“Sebenarnya kami sudah menerima banyak kasus, tanpa menyebut dari mana, yang gagal di luar negeri dan kembali ke sini, juga kami angkut pakai helikopter,” kata David.
Untuk ruang perawatan, tarif kamar Siloam berbeda-beda, tergantung fasilitas dan lokasi rumah sakit. Kamar presidential suite di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi misalnya mencapai Rp5,5 juta per malam dengan fasilitas setara hotel berbintang lima. Meski terbilang mahal, layanan premium ini diklaim memiliki okupansi yang tinggi.
Toh, menurut David, poin penting yang dicari pasien eksekutif ini bukan semata kemewahan, melainkan kemudahan hingga privasi. Mulai dari jalur masuk khusus bagi publik figur yang tak ingin terekspos, ruang tunggu eksklusif, hingga pendampingan penuh selama proses administrasi dan perawatan.
“Mulai dari pendaftaran yang cepat, ruang tunggu nyaman, dokter siap tepat waktu, makanan enak, hingga perawatan intensif dengan dokter terbaik—semuanya harus sempurna,” ujarnya.
Tak hanya Siloam, Mayapada Hospital juga memiliki strategi khusus untuk melayani segmen premium. Setiap unit Rumah Sakit Mayapada dilengkapi junior suite dan presidential suite yang masing-masing ruangannya dilengkapi dengan area keluarga, layanan personal dari tim Customer Relationship Management (CRM), serta pendampingan penuh selama masa perawatan.
“Biasanya okupansinya cukup tinggi, tapi sejauh ini masih sesuai dengan kebutuhan,” kata Chief Medical Officer (CMO) Mayapada Hospitals, Dini Handayani, kepada Fortune Indonesia.
Tak hanya itu, Mayapada Hospitals menghadirkan fasilitas antar-jemput pasien dengan mobil mewah BMW untuk menuju jaringan rumah sakit Mayapada. Layanan ini menjangkau area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Surabaya, dan Malang. Pasien dapat menggunakan fasilitas ini dengan menghubungi kontak customer service.
Dini menjabarkan, pendekatan pelayanan premium berfokus pada pasien yang diwujudkan lewat kehadiran patient navigator, yakni dokter umum yang mendampingi pasien selama proses perawatan—terutama di lima Center of Excellence (CoE) Mayapada: kardiologi (jantung), onkologi (kanker), neurologi (saraf), gastro-hepato enterology (pencernaan dan hati), dan ortopedi (tulang dan sendi).
Patient navigator ini seperti teman dan asisten khusus bagi pasien dan keluarganya, terutama dalam memastikan pasien paham setiap langkah pengobatan dan bisa ikut mengambil keputusan.
“Tidak semua pasien mengerti istilah medis. Kami bantu agar keputusan itu diambil dengan sadar,” katanya.
Primaya juga agresif menyasar pasien premium, di antaranya dengan mengoperasikan Primaya Hospital Kelapa Gading pada Oktober 2025. CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, menyebutkan jika normalnya investasi untuk satu rumah sakit nilainya Rp150 miliar-Rp250 miliar, pembangunan Primaya Hospital Kelapa Gading menghabiskan biaya hingga tiga kali lipatnya. Terbesar dalam sejarah grup.
“Kalau kami tidak berada di kantong-kantong tempat tinggal pasien-pasien yang sering bepergian keluar negeri, bagaimana kami bisa menjemput bolanya. Sehingga ekspansi cabang itu yang kami lakukan,” kata Leona saat ditemui Fortune Indonesia di Jakarta.
Rumah sakit Primaya di Kelapa Gading ini memiliki 250 tempat tidur, termasuk enam kamar presidential suite, 15 signature suite, serta 25 kamar deluxe. Total, hampir seperempat dari seluruh kapasitasnya ditujukan untuk pasien VIP. Rumah sakit ini juga dilengkapi CT scan multislice dual energy 2x300, fasilitas radiologi, dan neuro brain center, hingga pengembangan cancer center dengan peralatan berteknologi tinggi lainnya yang sekelas dengan rumah sakit kanker nasional.
Tak mau kalah, PT Medikaloka Hermina Tbk juga tengah fokus menggarap segmen kelas atas. Jaringan RS dengan kode saham HEAL ini baru saja menerima investasi dari dua konglomerasi, yakni Grup Astra melalui PT Astra Healthcare Indonesia (AHI) dan Grup Djarum melalui PT Dwimuria Investama Andalan (DIA).
Dengan aksi korporasi tersebut, HEAL mulai membidik porsi pasien premium menjadi 40 persen pada akhir 2025 dan 2026. Upaya yang dilakukan perseroan untuk menjaring pasien kelas atas dengan menghadirkan dan meningkatkan layanan Padma dan Kamala di jaringan 51 rumah sakit miliknya.
“Program Padma ini memang khusus untuk layanan pasien-pasien eksekutif, dari mulai daftar, IGD, terus poliklinik, laboratorium, sampai ke rawat inapnya untuk layanan eksekutif,” kata Corporate Secretary Hermina Hospitals, Ling Ichsan Hanafi, saat berbincang dengan Fortune Indonesia.
Sementara, Poliklinik Kamala menjadi bagian dari layanan premium di beberapa RS Hermina.
“Okupansi kamar yang untuk pasien-pasien eksekutif ini tinggi sekali sekitar 70 persen,” kata Ichsan.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kementerian Kesehatan pada 2023 mencatat, satu dari 1.000 orang Indonesia pernah berobat ke luar negeri, dengan Malaysia menjadi negara tujuan utama. Negara tujuan rawat medis lainnya adalah Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga Korea Selatan.
Jika dirupiahkan, negara diproyeksikan kehilangan devisa Rp150 triliun per tahun dari fenomena tersebut.
“Begitu banyak WNI mencari pengobatan di luar negeri yang mengakibatkan juga pengeluaran devisa yang sangat besar,” kata Presiden Prabowo Subianto pada Peresmian KEK Sanur dan Bali International Hospital, 25 Juni 2025.
Sementara itu, pelaku industri rumah sakit di dalam negeri juga menyadari bahwa tren tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan atas kualitas pengobatan yang mujarab dan layanan kesehatan yang optimal.
Dengan demikian, persaingan menghadirkan layanan kesehatan premium kini bukan lagi tentang kemewahan, tetapi kepercayaan. Dengan teknologi mutakhir dan pelayanan personal, rumah sakit dalam negeri perlahan membuktikan bahwa kesembuhan terbaik tak selalu harus dicari di luar negeri.
