Jakarta, FORTUNE - Lonjakan tajam harga perak memaksa Pandora, produsen perhiasan terbesar dunia berdasarkan volume penjualan, mengubah strategi bahan baku. Perusahaan asal Denmark itu mulai beralih ke perhiasan berlapis platinum demi menekan risiko volatilitas biaya, di tengah tekanan konsumen yang makin berhati-hati dan beban tarif impor Amerika Serikat.
Pandora membeli lebih dari 300 ton perak setiap tahun. Namun harga perak yang bergerak ekstrem, sempat menyentuh sekitar US$80 per ons dan masih lebih dari dua kali lipat dibandingkan setahun lalu, telah mengganggu model bisnis perusahaan yang selama ini memposisikan diri sebagai penyedia “kemewahan terjangkau”. Harga emas juga naik signifikan, meski tidak setajam perak, didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan perburuan aset aman.
Sebagai respons, Pandora pada Rabu lalu mengumumkan akan meluncurkan lini perhiasan berlapis platinum tahun ini untuk mengurangi ketergantungan pada perak sterling. “Dengan inovasi ini, kami dapat menyiasati realitas baru biaya bahan baku sekaligus tetap menawarkan perhiasan logam mulia yang sangat cocok untuk pemakaian sehari-hari,” ujar CEO Pandora, Berta de Pablos-Barbier, dalam siaran pers, mengutip Investopedia.
Melansir The New York Times, dalam dokumen perusahaan disebutkan, dalam waktu satu tahun Pandora menargetkan setidaknya setengah dari produk peraknya beralih ke pelapisan platinum di atas paduan logam. Strategi ini diharapkan dapat “mengurangi sebagian signifikan” dampak kenaikan harga bahan baku, tanpa mengorbankan daya tarik produk di mata konsumen.
Volatilitas perak menjadi perhatian utama karena logam ini menyumbang hampir sepertiga dari harga pokok penjualan Pandora, menjadikannya komponen biaya terbesar perusahaan. Sebagai pembanding, emas hanya menyumbang sekitar 8 persen dari total biaya produksi. Meski perusahaan telah melakukan lindung nilai untuk melindungi sekitar 90 persen pembelian perak dan emasnya tahun ini, Pandora tetap memperingatkan harga komoditas berpotensi memangkas margin laba hingga 2,5 poin persentase, bahkan lebih besar dari dampak tarif impor.
Harga platinum sendiri juga naik, meski lebih moderat. Hingga pekan ini, platinum diperdagangkan di kisaran US$2.070–US$2.100 per ons, sekitar dua kali lipat dibandingkan setahun lalu. Kendati demikian, Pandora menilai platinum lebih stabil dan cocok untuk pelapisan paduan logam yang dikembangkan internal guna menjaga biaya tetap terkendali.
Berta de Pablos-Barbier, yang mulai menjabat awal tahun ini, menyebut peralihan ini penting untuk menjaga posisi merek. “Para konsumen justru akan mendapatkan produk yang lebih unggul, dengan logam mulia berkualitas tinggi yang lebih cocok untuk pemakaian sehari-hari dan tetap ditawarkan dengan harga terjangkau,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa platinum tidak mudah terkorosi atau kusam, bahkan saat digunakan di lingkungan ekstrem seperti pantai.
Langkah Pandora juga mencerminkan tren lebih luas di industri perhiasan global. Sejumlah produsen lain mulai membuat emas berongga, mencampur emas dan perak, bahkan mengganti emas dengan logam alternatif demi menjaga harga tetap dalam jangkauan konsumen. Namun bagi Pandora, peralihan ke platinum menjadi strategi kunci untuk menavigasi era baru pasar logam mulia yang kian bergejolak.
