Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Lukisan karya the Beatles/Dok. Christie's
Lukisan karya the Beatles/Dok. Christie's

Jakarta, FORTUNE - Penjualan seni global mengalami penurunan sebesar 12 persen sepanjang tahun 2024, menurut Laporan Pasar Seni Global Art Basel dan UBS yang dirilis Selasa (8/4). Laporan tahunan yang dianggap sebagai tolok ukur utama kesehatan pasar seni itu mencatat penurunan ini sebagai yang kedua secara berturut-turut.

"Penurunan nilai didorong oleh pelambatan di segmen atas," tulis laporan tersebut, yang menggambarkan 2024 sebagai "tahun dengan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, volatilitas ekonomi, dan fragmentasi perdagangan."

Lelang karya seni tunggal yang terjual di atas US$10 juta turun hingga 39 persen. Sementara itu, galeri dengan omzet tahunan lebih dari US$10 juta mencatat penurunan penjualan sebesar 9 persen.

"Orang-orang menjadi lebih enggan mengambil risiko," kata Clare McAndrew, ekonom penyusun laporan tersebut. "Dari sisi pasokan, orang-orang menunggu untuk melihat bagaimana situasinya berkembang dan memilih menahan karya mereka. Itu memengaruhi apa yang muncul di pasar."

McAndrew juga menambahkan, "Para pembeli melihat situasi yang tidak pasti dan penuh gejolak ini, dan lebih memilih menginvestasikan uang pada sesuatu yang lebih likuid, atau sesuatu yang menghasilkan pendapatan."

Laporan yang kerap dijadikan rujukan utama di tengah kurangnya transparansi pasar seni global ini memperkirakan total nilai penjualan seni pada 2024 sebesar US$57,5 miliar. Angka ini jauh dari puncaknya pada 2014 yang mencapai US$68,2 miliar. Padahal, dalam dekade terakhir, kekayaan miliarder telah meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$15,6 triliun.

"Ada begitu banyak kekayaan di berbagai belahan dunia yang saat ini belum membeli karya seni. Fokusnya terlalu besar pada segelintir orang yang memang sudah membeli. Pertumbuhan harus datang dari memperluas ranah ketertarikan," ujar McAndrew.

Galeri kecil jaring pembeli baru

Secara geografis, penjualan seni menurun di seluruh wilayah utama. Amerika Serikat tetap menjadi pasar terbesar dengan penjualan sebesar US$24,8 miliar, namun turun 9 persen, sebagian karena "ketidakpastian politik terkait pemilihan presiden." Inggris berada di posisi kedua dengan US$10,4 miliar, hanya turun 5 persen. Sementara itu, pasar seni Tiongkok anjlok 31 persen menjadi US$8,4 miliar — level terendah sejak 2009 — akibat "pertumbuhan ekonomi yang melambat, kemerosotan pasar properti, dan tantangan ekonomi lainnya."

Namun, laporan juga mencatat titik cerah: peningkatan aktivitas di segmen harga rendah. Jumlah transaksi seni secara global naik 3 persen menjadi 40,5 juta transaksi — tertinggi sepanjang sejarah — didorong oleh pertumbuhan perdagangan daring pasca-pandemi. Penjualan karya seni dengan harga di bawah US$5.000 meningkat 7 persen. Dealer kecil dengan omzet di bawah US$250.000 mencatat pertumbuhan 17 persen, tahun kedua berturut-turut.

"Galeri-galeri kecil menarik porsi pembeli baru terbesar," tulis laporan tersebut, menyoroti pentingnya peran mereka dalam memperluas pasar ke audiens yang lebih luas.

Laporan juga menyebut bahwa 80 persen dealer memperkirakan pasar akan tetap stabil atau bahkan meningkat. Namun, survei ini dilakukan sebelum Presiden Trump mengumumkan tarif tinggi untuk hampir semua barang impor ke AS pekan lalu — kebijakan yang langsung memicu penurunan pasar saham.

"Ini buruk. Pertumbuhan pasar seni kontemporer dibangun atas dasar barang bisa bergerak bebas lintas negara. Ini waktu terburuk bagi pasar seni untuk terkena dampaknya," kata McAndrew.

Ia menambahkan bahwa dampak tarif mungkin masih akan berkembang. Selainn itu, masih ada potensi tindakan balasan, dan kerusakan yang ditimbulkannya secara umum tetap akan terasa. UBS dan Art Basel menegaskan bahwa faktor-faktor seperti ketegangan geopolitik, volatilitas ekonomi, dan fragmentasi perdagangan yang menekan pasar seni pada 2024 belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.

Editorial Team