Jakarta, FORTUNE - Mercedes-Benz Group, mencatat tekanan signifikan pada kinerja 2025 setelah dibebani biaya tarif global dan persaingan ketat di pasar Tiongkok. Perusahaan melaporkan laba operasional setahun penuh sebesar 5,8 miliar euro (US$6,9 miliar), merosot 57 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan jauh di bawah proyeksi analis 6,6 miliar euro.
Manajemen menyebut pelemahan nilai tukar, kompetisi di Cina, serta beban tarif sekitar 1 miliar euro (US$1,2 miliar) sebagai faktor utama penekan kinerja.“Di tengah lingkungan pasar yang dinamis, hasil keuangan kami tetap berada dalam panduan yang telah ditetapkan, berkat fokus pada efisiensi, kecepatan, dan fleksibilitas,” ujar Ola Källenius, Chairman of the Board of Management Mercedes-Benz Group, dalam keterangannya Kamis (12/2).
Tekanan tersebut terjadi ketika pabrikan otomotif Eropa menghadapi tantangan berlapis. Kinerja dipengaruhi kenaikan biaya produksi, gangguan rantai pasok, tekanan regulasi, hingga transisi kendaraan listrik yang belum mulus. Di pasar saham, saham Mercedes yang tercatat di Bursa Munich turun sekitar 1 persen pada perdagangan sore dan telah melemah sekitar 7 persen sepanjang tahun berjalan.
Ke depan, perusahaan berencana melanjutkan program efisiensi biaya pada 2026 sembari menyiapkan sejumlah peluncuran produk. Mercedes menargetkan adjusted return on sales untuk Mercedes-Benz Cars di kisaran 3–5 persen, lebih rendah dari capaian 5 persen pada 2025. Adapun Mercedes-Benz Vans 8–10 persen, serta Adjusted Return on Equity untuk Mercedes-Benz Financial Services 10–12 persen.
Mercedes-Benz Group juga memperkirakan pendapatan grup pada 2026 akan berada setara dengan tahun sebelumnya, setelah mencatat €132,2 miliar pada 2025. Sementara itu, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) grup diproyeksikan meningkat secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Arus kas bebas dari bisnis industri diperkirakan sedikit di bawah capaian 2025, yang tercatat €5,4 miliar.
