Jakarta, FORTUNE - Bayangkan masa depan di mana asisten digital dapat menganalisis grafik candlestick dan angka-angka pergerakan harga saham tanpa jeda. Akal buatannya bahkan juga bisa menyisir laporan keuangan, berita makroekonomi, hingga sentimen media sosial dalam hitungan detik, lalu meramu data-data itu menjadi rekomendasi instan yang tajam.
Lebih jauh, ia bahkan bisa melangkah ke tahap eksekusi, menempatkan order beli atau jual di momen yang presisi, saat perbedaan sepersekian detik bisa menentukan untung atau rugi. Bayangan ‘masa depan’ itu kini mulai menjelma.
Pada laporan Artificial Intelligence in Capital Markets (Maret 2025), International Organization of Securities Commissions (IOSCO) mencatat beberapa contoh potensi pemanfaatannya di pasar modal; dalam komunikasi dengan klien, algorithmic trading, roboadvising/manajemen aset, deteksi penipuan, dukungan produktivitas internal, antipencucian uang, analisis sentimen, perdagangan frekuensi tinggi, riset investasi, serta otomatisasi transaksi.
Hal-hal itu tak hanya dapat diimplementasikan di Self-Regulated Organization (SRO), tapi juga para Anggota Bursa (AB). Dengan catatan, harus tetap memenuhi peraturan dan perundangan pasar modal terkini.
Salah satu implementasi AI terbaru oleh AB di Indonesia adalah ‘ChatGPT versi pasar saham’ dari Sucor Sekuritas. Pada Mei 2025, perusahaan asal Surabaya itu merilis fitur SPOT AI di aplikasinya. Pengembangan fitur itu berawal dari pengalaman Bernadus Wijaya, CEO PT Sucor Sekuritas, yang mulai rutin menggunakan ChatGPT.
“Seru,” menurutnya. Namun, sebagai profesional di pasar modal, ia merasa informasi ihwal saham di mesin itu terkadang keliru. “Karena memang dia [ChatGPT] bukan untuk saham ya. Dia tak mengerti, tak tahu detail tentang support, resisten, area-area itu, agak ngaco. Makanya aku ingin membuat semacam AI seperti ChatGPT, khusus untuk saham, yang akurat dari sisi teknikal, fundamental, dan berita,” ujarnya (15/8).
Sucor Sekuritas mengombinasikan API ChatGPT dengan data-data pasar yang mereka miliki (baik dari tim riset teknikal dan fundamental, maupun data tambahan hasil langganan perusahaan). Khusus untuk tim riset internal, Sucor Sekuritas didukung oleh 10 analis, yang aktif menginput data-data teknikal dan fundamental ke sistem SPOT AI demi menjaga keandalan fitur.
Dalam hematnya, pengembangan SPOT AI bertujuan menciptakan sosok ‘asisten virtual’ bagi para trader dan investor pemula. Secara mendetail, nasabah di bawah 30 tahun lah yang termasuk dalam segmen tersebut. Khususnya yang literasi finansialnya belum cukup mumpuni karena kurang terekspos edukasi.
Sebagai konteks, 80 persen dari 80.000 pengguna aplikasi SPOT by Sucor Sekuritas berusia 25–40. Sejak Mei–medio Agustus 2025, fitur SPOT AI diklaim telah diadopsi ribuan pengguna. Berapa target kenaikan transaksi yang ingin diraih dari adanya fitur itu? Bernad tak memperinci angkanya. Namun, karena masih dalam tahap uji coba, yang berlaku 6 bulan sejak Mei, Sucor Sekuritas masih fokus mengedukasi pengguna seraya memutakhirkan sistem.
“Karena tentu saja kami tak ingin merilis fitur yang sembarangan. [Jangan sampai] kami sudah promosi gila-gilaan, tapi ternyata belum secanggih itu,” katanya. “Kalau adopsinya sudah bagus, penerimaan dari klien existing bagus, baru kami akan promosi besar.”
