Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Akuisisi BVNK Rp31,7 Triliun jadi Sinyal Baru Ambisi Kripto Mastercard
Ilustrasi kartu Mastercard. Shutterstock/garmoncheg

Jakarta, FORTUNE - Raksasa pembayaran global Mastercard resmi mengakuisisi perusahaan infrastruktur stablecoin asal Inggris, BVNK, dengan nilai mencapai US$1,8 miliar atau sekitar Rp31,7 triliun. Langkah ini dinilai menjadi salah satu ekspansi terbesar perusahaan pembayaran tradisional ke industri aset digital sekaligus memperkuat arah baru sistem pembayaran lintas negara berbasis stablecoin.

Melansir CoinMarketCap, BVNK menyediakan teknologi yang memungkinkan perusahaan mengirim, menerima, dan mengelola pembayaran stablecoin di lebih dari 130 negara. Perusahaan tersebut juga telah mengantongi lisensi pembayaran di berbagai yurisdiksi, sehingga dinilai memiliki fondasi regulasi yang lebih kuat dibanding banyak pemain kripto lain.

Teknologi BVNK nantinya akan diintegrasikan langsung ke jaringan pengiriman uang internasional Mastercard Move. Jaringan tersebut selama ini digunakan untuk memproses pembayaran lintas batas bagi perbankan, perusahaan financial technology (fintech), hingga korporasi global.

Dengan tambahan infrastruktur stablecoin, Mastercard membidik proses penyelesaian transaksi internasional yang lebih cepat serta biaya transfer yang lebih rendah.

Langkah ini juga memperlihatkan perubahan strategi lembaga keuangan tradisional terhadap industri kripto. Alih-alih masuk ke aset digital yang bersifat spekulatif, perusahaan besar kini mulai fokus pada pengembangan infrastruktur pembayaran yang lebih praktis dan teregulasi.

Bersamaan dengan pengumuman akuisisi BVNK, Mastercard juga memastikan menghentikan rencana investasi strategisnya di perusahaan kripto Zerohash. Keputusan tersebut dinilai mencerminkan pendekatan yang lebih hati-hati di tengah volatilitas pasar kripto dan ketidakpastian regulasi global.

Stablecoin sendiri semakin mendapat perhatian karena dianggap mampu menjadi alternatif transfer lintas negara yang lebih cepat dan murah dibanding sistem perbankan konvensional. Namun, adopsinya selama ini masih terhambat oleh kompleksitas regulasi serta infrastruktur yang terfragmentasi.

Masuknya Mastercard dengan jaringan lebih dari 3 miliar kartu dan hubungan dengan ribuan institusi keuangan diperkirakan dapat mempercepat penggunaan stablecoin secara lebih luas di sektor pembayaran global.

Integrasi ini dinilai berpotensi menguntungkan pelaku e-commerce, perusahaan ekonomi gig, hingga bisnis remitansi yang sangat bergantung pada transaksi lintas negara. Di sisi konsumen, transfer dana internasional juga berpeluang menjadi lebih murah dan efisien, meski Mastercard belum mengungkap rincian tarif maupun jadwal implementasi resminya.

Di tengah langkah agresif perusahaan pembayaran global tersebut, penggunaan aset kripto di Amerika Serikat juga terus meningkat. Survei terbaru Federal Reserve menunjukkan sekitar 10 persen orang dewasa AS menggunakan atau memiliki aset kripto pada akhir 2025, naik dibanding 7 persen pada 2024.

Laporan yang dikutip dari Yahoo Finance, menyebut pertumbuhan tersebut turut didorong kehadiran Exchange Traded Fund (ETF) bitcoin dan Ethereum yang mempermudah investor ritel mengakses aset digital. Survei dilakukan terhadap hampir 13 ribu responden dewasa di AS pada Oktober 2025.

Meski penggunaan kripto meningkat, mayoritas warga AS masih memperlakukan aset digital sebagai instrumen investasi spekulatif, bukan alat pembayaran utama. Sebagian besar partisipasi kripto tercatat berasal dari kelompok usia di bawah 45 tahun dan rumah tangga dengan pendapatan di atas rata-rata nasional.

Tren tersebut memperlihatkan bahwa transformasi industri kripto kini tidak lagi hanya bergerak di area perdagangan aset digital, tetapi mulai merambah infrastruktur pembayaran global yang lebih terintegrasi dengan sistem keuangan konvensional.

Editorial Team