Jakarta, FORTUNE - HSBC Global Investment Research menetapkan target konservatif untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun di level 7.500. Pada perdagangan Kamis, 23 April 2026, IHSG ditutup di posisi 7.378,61, turun 163 poin atau melemah 2,16 persen.
Herald van der Linde, Chief Asia Equity Strategist, HSBC Global Investment Research mengatakan pasar modal negara berkembang secara umum masih berada dalam tren positif. Namun, Indonesia dinilai memiliki dinamika yang berbeda, terutama terkait ketidakpastian posisi dalam indeks MSCI.
"Saya pribadi tidak percaya Indonesia akan diturunkan statusnya menjadi Frontier Market," katanya dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026byang digelar secara daring, Kamis (23/4).
Herald juga menyoroti kebutuhan peningkatan porsi saham publik (free float). Untuk banyak perusahaan, menurut Herald, kebijakan free float yang naik 15 persen bisa membuat pemegang saham besar harus melepas sebagian sahamnya atau melakukan aksi seperti rights issue.
"Ini bisa sangat substansial. Setidaknya beberapa miliar dolar. Dan itu akan membayangi pasar, artinya ada lebih banyak pasokan saham," lanjut Herald.
Ia menjelaskan, bertambahnya pasokan saham ini bisa menekan harga jika tidak diimbangi dengan pembelian dari investor ritel. Karena itu, harga saham harus menarik agar investor tetap mau masuk.
"Dalam jangka panjang, peningkatan saham di pasar dan free float yang lebih tinggi akan sangat positif bagi Indonesia. Namun dalam jangka pendek berarti ada sedikit beban bagi ekuitas Indonesia," ujarnya.
Oleh karenanya, HSBC akan berhati-hati dengan memberikan rekomendasi underweight untuk saham Indonesia dalam konteks pasar Asia.
Herald juga memaparkan skenario terburuk apabila Indonesia benar-benar turun ke frontier market, yang memungkinkan terjadinya aksi jual besar-besaran, terutama dari dana pasif seperti ETF yang harus keluar dari Indonesia.
Menurutnya manajer asset akan yang paling aktif meninggalkan pasar modal domestik. Kondisi ini kemudian mendorong pasar menjadi kurang likuid dan tidak berjalan optimal.
"Kita pernah melihat ini sebelumnya. Pakistan, misalnya, juga pernah diturunkan statusnya," katanya.
Meski begitu, ia menegaskan skenario tersebut bukan mutlak pasti terjadi. Menurutnya, regulator Indonesia terus berupaya menjaga posisi Indonesia di emerging market. Ia juga berpandangan bahwa Indonesia memiliki sejumlah bank terbesar serta perusahaan konsumsi utama di ASEAN, sehingga ketiadaannya akan menciptakan kekosongan signifikan di pasar saham kawasan.
