Pembagian dividen berlangsung ketika kinerja Astra pada semester I 2026 mengalami tekanan. Laba bersih ASII sebesar Rp12,53 triliun, turun dari Rp15,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra juga turun 3 persen secara tahunan menjadi Rp157,91 triliun dari Rp162,85 triliun pada semester I 2025.
Penurunan laba terutama berkaitan dengan kinerja bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat. Pada semester I 2026, laba bersih segmen Mining Solutions & Heavy Equipment, tidak termasuk pos non-berulang, turun 46 persen menjadi Rp2,7 triliun.
Tekanan tersebut antara lain berasal dari penurunan volume produksi batu bara, penjualan alat berat, serta volume penjualan emas. Volume penjualan batu bara Astra turun 7 persen menjadi 7,2 juta ton dari 7,8 juta ton.
Penjualan alat berat Komatsu juga turun 27 persen menjadi 1.994 unit dari 2.728 unit. Sementara itu, volume penjualan emas merosot 82 persen menjadi 23 ribu ounce dari 125 ribu ounce.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah bisnis lain masih tumbuh. Segmen otomotif mencatat pertumbuhan 9 persen, sedangkan jasa keuangan tumbuh 6 persen. Bisnis lainnya juga tumbuh 31 persen pada semester I 2026.