Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpeluang rebound teknikal dalam jangka pendek pada Selasa (19/5), setelah ditutup turun 1,85 persen ke level 6.599 kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bearish. Akan tetapi, kondisi oversold menandakan adanya peluang berbalik arah tersebut.
Ia memproyeksikan IHSG bergerak di rentang support 6.500 dan resisten di 6.720. "Dengan fokus pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia di tengah tekanan nilai rupiah," kata Reza dalam riset hariannya.
Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah OASA, AUTO, dan HUMI.
Phintraco Sekuritas menambahkan, melemahnya mayoritas indeks di bursa global dan berlanjutnya depresiasi Rupiah menjadi faktor negatif bagi pergerakan IHSG, di tengah minimnya sentimen positif. Kekhawatiran akan meningkatnya kembali ketegangan AS-Iran dan kenaikan harga minyak mentah, memicu kecemasan akan meningkatnya laju inflasi.
Sementara itu, secara teknikal IHSG membentuk gap di level 6.705 dan ditutup di bawah level 6.600, setelah sempat menyentuh level terendah intraday di level 6.398. Pelebaran histogram negatif MACD masih berlanjut, sedangkan Stochastic RSI mendekati oversold namun belum ada indikasi reversal.
"Sehingga diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.400-6.700," demikian menurut tim riset Phintraco Sekuritas.
Kemarin, rupiah ditutup melemah 0,4 persen di level Rp17.668 per dolar Amerika Serikat (AS), yang merupakan rekor penutupan paling rendah sepanjang sejarah (18/5). Tekanan terhadap rupiah itu mendorong munculnya perkiraan bahwa BI berpeluang menaikkan BI rate pada pertemuan di hari Selasa-Rabu pekan ini (19-20/5).
Namun Gubernur BI memprediksi bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menguat mulai Juli 2026, karena berdasarkan historis rupiah cenderung melemah di bulan April hingga Juni karena adanya kenaikan permintaan Dolar pada bulan tersebut.
Phintraco Sekuritas mencatat, jika BI rate dinaikkan dalam rangka untuk meredam depresiasi Rupiah lebih lanjut, maka itu bertujuan meningkatkan daya tarik investasi domestik bagi investor asing. Harapannya, yield instrumen investasi di domestik menjadi lebih menarik.
"Di sisi lain, kenaikan suku bunga dapat berdampak pada kenaikan biaya pinjaman yang dapat mendorong peningkatan beban bunga perusahaan dan mengurangi daya beli masyarakat," kata tim riset Phintraco.
Di tengah situasi itu, saham-saham yang menjadi pilihan tim Phintraco Sekuritas adalah MEDC, ELSA, PGAS, TLKM, dan BBCA.
