Jakarta, FORTUNE - PT Darma Henwa Tbk (DEWA) memperpanjang kontrak kerja sama dengan anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Arutmin Indonesia. Kesepakatan dengan estimasi nilai Rp10,5 triliun ini mencakup pengerjaan proyek pertambangan Kintap dan proyek pertambangan Asam Asam di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Berbeda dari kesepakatan biasa, durasi perpanjangan kontrak ini bersifat life of mine atau berlaku hingga masa tambang habis. Manajemen memproyeksikan potensi galian lapisan tanah penutup (overburden) mencapai 252 juta bank cubic meter (BCM) dengan perkiraan volume produksi batu bara sebesar 50 juta ton.
Sentimen positif ini langsung direspons oleh pasar. Pada perdagangan hari ini, saham DEWA menguat dengan kenaikan 35 poin dari akhir perdagangan kemarin, menutup perdagangan siang ini pada level Rp790 per saham.
Manajemen perseroan menilai kesepakatan life of mine ini memberikan landasan operasional yang kuat sekaligus memperkokoh struktur keuangan perusahaan.
“Penandatanganan perpanjangan kontrak tersebut menunjukkan kepercayaan Arutmin terhadap perseroan sebagai mitra jangka panjang,” demikian manajemen DEWA dalam keterbukaan informasi, Selasa (20/1).
Pada kontrak sebelumnya di proyek Asam Asam, rata-rata volume produksi per tahun tercatat sebesar 17,3 juta BCM untuk overburden dan 3,8 juta ton batu bara. Sementara pada proyek Kintap, rata-rata produksi tahunan mencapai 25,3 juta BCM untuk overburden dan 3,8 juta ton batu bara.
Seiring dengan diamankannya kontrak jumbo tersebut, DEWA melakukan efisiensi strategi operasional. Memasuki kuartal I-2026, DEWA menyatakan tidak akan lagi menggunakan jasa subkontraktor.
Langkah ini memastikan seluruh volume pekerjaan yang sebelumnya digarap pihak ketiga akan diambil alih sepenuhnya oleh perseroan. Hal ini sejalan dengan target pertumbuhan berkelanjutan yang dicanangkan manajemen untuk tahun ini.
Terkait ekspansi lebih lanjut, DEWA bergerak melalui dua jalur. Secara organik, perseroan fokus meningkatkan kapasitas produksi proyek lama. Sedangkan secara non-organik, opsi akuisisi dan diversifikasi ke sektor mineral (non-batu bara) menjadi bidikan utama.
“Setiap peluang yang muncul akan melalui proses evaluasi dan perhitungan yang matang, dengan mempertimbangkan value added bagi perseroan, serta dilakukan asesmen dan mitigasi risiko agar pengembangan usaha tetap terukur, terkendali, dan berkelanjutan,” demikian manajemen.
