Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Dibayangi Aksi Profit Taking, IHSG Diperkirakan Terkoreksi Lagi
Laju IHSG pada Rabu (28/1).

Jakarta, FORTUNE - Setelah ditutup melemah 0,58 persen di level 7.623, Indeks Harga Saham Gabungan IHSG) diperkirakan kembali terkoreksi pada Kamis (16/4).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, IHSG berpotensi pullback karena terdapat area gap hingga level 7.500 yang menjadi level support terdekat. Secara teknikal, level 7.000 menjadi level resisten psikologis yang penting untuk ditembus jika ingin kenaikan berlanjut.

Pelemahan rupiah yang melampaui lebih dari Rp17.100 menjadi faktor capital outflow yang terjadi. "Belum tercapainya kesepakatan peran Iran VS Amerika membuat pergerakan IHSG diproyeksi masih akan terbatas," kata Reza dalam risetnya.

Saham-saham yang disoroti oleh tim BRIDS pada perdagangan hari ini, mencakup: AKRA, INCO, dan BUKA.

Kemarin, koreksi IHSG disertai dengan aksi jual beli asing senilai Rp1,23 triliun. Itu karena laju saham sektor perbankan dan aksi profit taking setelah terjadi reli selama dua minggu terakhir.

Senada dengan BRIDS, Phintraco Sekuritas menjelaskan, secara teknikal, Stochastic RSI berada di area overbought dan membentuk death cross. Namun histogram positif MACD masih mengalami kenaikan.

"Sehingga diperkirakan IHSG akan mengalami konsolidasi pada kisaran 7.550-7.700," kata tim riset Phintraco Sekuritas.

Dari segi sentimen, Phintraco Sekuritas menyoroti pernyataan S&P Global Ratings yang menyatakan bahwa peringkat utang negara Indonesia paling rentan terhadap konflik di Timur Tengah jika konflik berlarut-larut.

Kenaikan biaya energi akibat konflik tersebut diproyeksikan akan meningkatkan biaya subsidi Indonesia dan menekan anggaran belanja negara. Impor minyak yang lebih mahal akan memperlebar defisit transaksi berjalan. S&P juga menilai percepatan inflasi akan mendorong kenaikan suku bunga yang dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.

Sementara itu Pefindo mencatat bahwa penerbitan obligasi korporasi sepanjang kuartal-I 2026 tumbuh 26,97 persen (YoY) menjadi Rp59.35 triliun dibandingkan realisasi di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp46,8 triliun. Realisasi itu bahkan melebihi nilai jatuh tempo surat utang pada periode yang sama.

Kenaikan jumlah penerbitan tersebut diduga karena banyak perusahaan yang memanfaatkan yield yang relatif masih rendah selama Januari-Februari 2026 lalu untuk memperoleh pendanaan di pasar surat utang. Surat utang dengan tenor 5 tahun mendominasi emisi sebesar 29,53 persen dari total penerbitan, diikuti oleh tenor 1 tahun (25,95 persen), tenor 3 tahun (22,91 persen), tenor 7 tahun (16,36 persen) dan tenor panjang (kurang dari 6 persen). 

Saham-saham yang dipilih tim Phintraco Sekuritas hari ini adalah GJTL, CPIN, MAPI, CTRA, dan ADRO.

Editorial Team