Ditekan Sentimen FTSE dan FOMC, IHSG Berpeluang Lanjutkan Rebound

- IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju 6.240 setelah ditutup naik 1,21 persen ke 6.192,93, didorong keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market.
- Penguatan teknikal terkonfirmasi setelah IHSG bertahan di atas 6.017 dan menembus 6.140; indeks perlu menjaga level 6.140 agar tidak kembali memasuki fase konsolidasi.
- Investor menanti FOMC Minutes dan laporan keuangan kuartal III-2026, sementara FTSE terus memantau reformasi pasar modal Indonesia hingga pembaruan evaluasi pada Desember 2026.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan pemulihan teknikal pada perdagangan Rabu (7/10). Indeks saham domestik berpotensi menguji level 6.240 setelah ditutup menguat 1,21 persen ke posisi 6.192,93 pada perdagangan sebelumnya.
Keputusan FTSE Russell mempertahankan status pasar Indonesia sebagai Secondary Emerging Market menjadi pendorong utama pergerakan indeks. Kepastian ini menghindarkan pasar modal nasional dari risiko penurunan status (downgrade).
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, menjelaskan pemulihan indeks terkonfirmasi setelah IHSG bertahan di atas level penopang (support) 6.017 dan menembus batas resistansi 6.140. Namun, pergerakan indikator MACD belum sepenuhnya menunjukkan sinyal penguatan penuh (bullish).
Reza menyebutkan, kemampuan IHSG menjaga posisi di atas level 6.140 menjadi kunci penguatan menuju target 6.240.
"Sebaliknya, pelemahan kembali di bawah 6.140 berpotensi membawa indeks masuk fase konsolidasi," katanya.
Dari pasar luar negeri, perhatian investor tertuju pada rilis FOMC Minutes hasil rapat pertengahan September. Pasar mencermati arah kebijakan suku bunga Fed setelah Fed Fund Rate berkisar 3,75-4 persen.
Data tenaga kerja Amerika Serikat yang melemah memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih longgar. Meski demikian, imbal hasil obligasi pemerintah AS (UST 10Y) masih tertahan pada kisaran 5,3 persen.
"Ruang penguatan aset emerging market masih menghadapi risiko dari biaya dana global yang tinggi," ujar Reza.
Di sisi lain, FTSE Russell memantau efektivitas reformasi pasar modal Indonesia secara berkelanjutan. Evaluasi mencakup keterbukaan data pemegang saham, detail data investor, peningkatan batas saham beredar (free float), hingga penguatan pengawasan pasar.
Lembaga ini dijadwalkan memberikan pembaruan evaluasi indeks pada Desember 2026.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menambahkan pendorong pasar lainnya datang dari kecenderungan October effect dan rilis kinerja keuangan kuartal III-2026. Momentum awal kuartal IV ini kerap dimanfaatkan pelaku pasar untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental solid.
Untuk perdagangan hari ini, BRIDS merekomendasikan saham INDY, ANTM, dan BULL. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas mengunggulkan saham ENRG, INDY, dan MEDC.














