Jakarta, FORTUNE - Selasa (17/3) ini menjadi momen krusial bagi para pemodal di lantai bursa yang mengincar jatah laba dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Emiten perbankan pelat merah ini resmi memasuki masa cum dividen di pasar reguler dan negosiasi.
Bagi mereka yang memilih jalur pasar tunai, tenggat waktu atau cum dividen baru akan jatuh pada 26 Maret 2026. Tanggal tersebut sekaligus menjadi recording date atau saat penentuan pihak yang berhak atas bagi-bagi laba ini. Jika tak ada aral melintang, pundi-pundi dividen tersebut akan dibayarkan secara serentak pada 7 April 2026.
“Keputusan ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk memberi nilai tambah bagi para pemegang saham, sekaligus memastikan kinerja perusahaan dapat terus tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, dalam keterangan resminya yang dikutip Selasa (17/3).
Langkah korporasi ini merupakan mandat dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Senin (9/3). Dalam forum tersebut, para pemilik modal menyepakati pembagian dividen tunai Rp13,03 triliun. Angka ini mencerminkan rasio pembayaran (payout ratio) sebesar 65 persen dari total laba bersih konsolidasian yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk, yakni sebesar Rp20,04 triliun.
Dengan perhitungan tersebut, setiap lembar saham akan menerima jatah Rp349,41.
Dari kacamata pasar, angka ini tergolong "gurih". Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto, sempat memotret bahwa pembagian laba ini menawarkan imbal hasil atau dividend yield yang menarik, yakni 8,2 persen jika mengacu pada harga intraday saat RUPST (Rp4.240).
Namun, menyusul apresiasi harga saham ke level Rp4.320 pada penutupan Senin (16/3), estimasi yield untuk tahun buku 2025 sedikit bergeser menjadi 8,1 persen, sebuah angka yang tetap terhitung tinggi untuk sektor perbankan big cap.
Kendati royal dalam berbagi laba, BNI tetap menyiapkan "napas tambahan" untuk ekspansi. Pemegang saham setuju menyisihkan 35 persen dari laba bersih, atau sekitar Rp7,01 triliun, sebagai saldo laba ditahan. Dana segar ini disiapkan untuk mempertebal kapasitas permodalan di tengah dinamika industri perbankan yang kian menantang.
“Ke depan, BNI akan terus memperkuat kinerja secara berkelanjutan sekaligus menjaga struktur permodalan yang solid agar mampu menciptakan nilai yang lebih optimal bagi para pemegang saham,” ujar Okki.
