Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Emas Melonjak 20 Persen YTD di Tengah Eskalasi Geopolitik
ilustrasi emas (pixabay.com/hamiltonleen)

Jakarta, FORTUNE - Harga emas dunia kembali mengalami kenaikan, kali ini dengan capaian 5 persen sepanjang Februari, hingga menyentuh US$5.222 per troy ounce. Lonjakan ini mengukuhkan pertumbuhan harga secara year-to-date (YTD) sebesar 20 persen. Penguatan ini dipicu oleh kombinasi pelemahan indeks dolar AS (DXY), penurunan imbal hasil obligasi, serta reaksi pasar terhadap pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari.

Johan Palmberg, Senior Quantitative Analyst di World Gold Council, mengungkap dalam ulasannya bahwa Model Atribusi Pengembalian Emas (Gold Return Attribution Model/GRAM) menunjukkan pelemahan dolar AS—terutama terhadap mata uang pasar berkembang—sebagai kontributor utama kinerja positif ini.

Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turut memberikan dukungan tambahan bagi pergerakan harga.

Meski terjadi lonjakan volatilitas pada Januari, harga emas tetap tertahan dari koreksi tajam berkat permintaan yang kuat dari pasar Asia. Hal ini terkonfirmasi dari tingginya volume perdagangan di Bursa Berjangka Shanghai (Shanghai Futures Exchange).

Pada sektor investasi kolektif, ETF emas global menyaksikan arus masuk (inflow) bersih senilai US$5,3 miliar (setara 26 ton) pada Februari. Tren ini didominasi oleh produk di kawasan Amerika Utara dan Asia.

Sebaliknya, pasar Eropa justru mencatatkan arus keluar (outflow) sebesar US$1,8 miliar (sekitar 13 ton) akibat aksi ambil untung (profit taking) menyusul reli harga pada bulan sebelumnya.

World Gold Council memprediksi tren penurunan indeks dolar AS (DXY) akan berlanjut dalam jangka menengah. Menurut laporan tersebut, penguatan dolar pada Januari hanyalah lonjakan jangka pendek yang dipicu oleh kejutan data ekonomi AS yang melampaui ekspektasi.

Beberapa faktor kunci yang berpotensi menekan nilai dolar ke depan antara lain:

  • Masih terlalu mahalnya pasar saham dan nilai tukar AS jika diukur berdasarkan perbandingan Real Effective Exchange Rate (REER).

  • Keuntungan ganda (saham kuat + dolar kuat) bagi investor asing mulai kehilangan daya tarik dibandingkan alternatif investasi di Eropa dan Jepang.

  • Kebijakan pemerintah AS terkait reshoring serta pemanfaatan dolar sebagai alat politik mendorong bank sentral dunia mendiversifikasi aset mereka ke emas.

Pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari memicu reaksi instan pada Senin, 2 Maret. Harga emas melonjak hampir 5 persen hanya dalam dua sesi perdagangan, seiring dengan kenaikan harga minyak dan penguatan dolar jangka pendek.

Secara historis, emas merespons positif pada 67 persen kasus ketegangan geopolitik. Namun, World Gold Council mengingatkan bahwa tingkat keberhasilan (hit rate) pergerakan harga biasanya menurun menjadi 57 persen dalam dua minggu setelah kejadian awal.

Meskipun prospek jangka panjang tetap positif, terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai:

  1. Harga emas yang tinggi dapat memicu kekhawatiran valuasi di kalangan investor.

  2. Jika arus modal finansial mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat di Eropa dan Jepang, daya tarik relatif emas di wilayah tersebut dapat berkurang.

Editorial Team