Jakarta, FORTUNE - Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan signifikan dalam 24 jam terakhir pada Kamis, 5 Februari 2026. Aset kripto terbesar tersebut tercatat turun 5,67 persen ke level US$71.563,51, lebih dalam dibandingkan penurunan pasar kripto secara keseluruhan yang melemah sekitar 5,1 persen. Koreksi ini memperpanjang tren bearish Bitcoin, yang telah turun lebih dari 18 persen dalam sepekan terakhir.
Tekanan harga Bitcoin dipicu oleh kombinasi arus keluar dana institusional, melemahnya indikator on-chain, serta meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu faktor utama datang dari arus keluar besar-besaran pada produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.
Data menunjukkan total aset ETF Bitcoin spot AS turun tajam dari lebih dari US$128 miliar pada pertengahan Januari menjadi sekitar US$97 miliar pada awal Februari. Artinya, sekitar US$31 miliar dana institusional keluar dari pasar dalam waktu relatif singkat, menandakan melemahnya minat institusi terhadap Bitcoin.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai arus keluar ETF ini memberikan tekanan jual langsung ke pasar. “ETF Bitcoin sebelumnya menjadi salah satu pilar utama permintaan sepanjang 2024–2025. Ketika arusnya berbalik menjadi net outflow, dukungan harga ikut melemah dan membuat Bitcoin lebih rentan terhadap koreksi lanjutan,” ujar Fyqieh, Kamis (5/2).
Selain faktor ETF, data on-chain juga menunjukkan melemahnya permintaan spot. Coinbase premium tercatat berada di zona negatif sejak Oktober, menandakan rendahnya minat beli dari investor Amerika Serikat. Sementara itu, Bull Score Index dari CryptoQuant berada di level nol, yang mengindikasikan lemahnya tekanan beli organik di pasar.
“Kondisi ini mencerminkan adanya ‘demand vacuum’ di pasar. Tanpa arus modal baru dari pembeli spot, pergerakan harga Bitcoin menjadi sangat sensitif terhadap sentimen dan likuidasi leverage,” katanya, menambahkan.
Tekanan juga datang dari sisi makro dan geopolitik. Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul gagalnya rencana perundingan, mendorong pelaku pasar global masuk ke mode risk-off. Di saat yang sama, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada April mengurangi harapan adanya suntikan likuiditas dalam waktu dekat. Dalam kondisi tersebut, Bitcoin kembali menunjukkan korelasi positif dengan aset berisiko. Aliran dana global cenderung berpindah ke aset safe haven seperti emas, yang justru mencetak rekor harga baru di kisaran US$4.500 per troy ounce.
Tekanan jual ini turut memicu likuidasi besar di pasar kripto. Dalam 24 jam terakhir, nilai likuidasi tercatat melampaui US$800 juta, seiring turunnya total kapitalisasi pasar kripto sekitar US$500 miliar dari kisaran US$3 triliun ke mendekati US$2,5 triliun.
Fyqieh menambahkan bahwa meskipun Bitcoin secara historis sering menunjukkan performa positif pada Januari, bulan tersebut juga dikenal sebagai periode volatilitas tinggi. “Pada Januari 2026, Bitcoin justru ditutup dengan penurunan sekitar 10 persen. Ini menunjukkan bahwa awal tahun kerap menjadi fase penyesuaian, rebalancing portofolio, dan distribusi, bukan selalu fase bullish,” katanya.
Dari sisi sentimen, Crypto Fear and Greed Index saat ini berada di level 17 atau kategori extreme fear. Kondisi ini menandakan dominasi sikap defensif investor dan masih terbukanya risiko penurunan lanjutan dalam jangka pendek.
Meski demikian, tekanan pasar saat ini tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. “Penurunan Bitcoin saat ini merupakan hasil kombinasi dari arus keluar ETF, ketidakpastian kebijakan moneter The Fed, ketegangan geopolitik, hingga meningkatnya sentimen risk-off global. Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, pasar kripto cenderung masih bergerak defensif,” ujarnya.
Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada dinamika arus dana ETF Bitcoin spot dalam beberapa hari mendatang. Meredanya tekanan arus keluar atau mulai masuknya kembali dana dari investor institusional dipandang bisa menjadi indikasi awal terbentuknya level penopang harga Bitcoin yang baru.
