Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ilustrasi Emas Batangan dan Investasi Digital.
Ilustrasi Emas Batangan. (pexels.com/Michael Steinberg)

Intinya sih...

  • Harga emas naik ke level all time high sebelum melandai.

  • Kenaikan harga emas terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran perang dagang antara AS dan Eropa.

  • Goldman Sachs memperkirakan harga emas global akan melonjak ke US$4.900 per ons pada Desember 2026.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Eskalasi ketegangan geopolitik dan ancaman perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa kembali memicu kenaikan harga emas di pasar spot. Komoditas yang beberapa tahun belakangan menjadi buruan serius itu mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa (all time high) US$4.690,6 per troy ounce pada perdagangan Senin (19/1).

Tidak lama kemudian, harga sedikit melandai ke posisi US$4.659 per troy ounce.

Lonjakan harga logam mulia ini terjadi seiring meluasnya aksi penghindaran risiko (risk-off) di kalangan investor. Kontrak berjangka saham AS dan dolar AS terlihat merosot. Kondisi tersebut akhirnya memaksa pemodal mengalihkan asetnya ke instrumen safe haven seperti emas, Yen Jepang, dan Franc Swiss.

Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Theodorus Melvin, menilai katalis utama pergerakan ini adalah manuver agresif Presiden AS, Donald Trump.

Trump mengancam akan memberlakukan kenaikan tarif impor sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa—termasuk Prancis, Jerman, Inggris, dan negara-negara Skandinavia—mulai 1 Februari 2026.

Friksi dagang ini berakar dari sengketa teritorial yang kian panas. Trump berulang kali menyatakan ambisinya mengambil alih kawasan Greenland dari Denmark dengan dalih keamanan nasional.

Rencana ini ditentang keras oleh Eropa yang merespons dengan pengiriman pasukan militer ke wilayah tersebut. Trump pun membalas dengan ancaman kenaikan tarif lebih lanjut menjadi 25 persen pada 1 Juni 2026.

Reli harga emas dunia memberikan efek tular positif ke pasar domestik. Harga emas Antam naik Rp40.000 menjadi Rp2.703.000 per gram pada Senin (19/1).

Secara korporasi, tren ini menguntungkan emiten produsen emas karena berpotensi mendongkrak harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan volume transaksi.

Theodorus menyoroti sejumlah emiten yang diuntungkan, antara lain PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).

Respons pasar saham pun terlihat positif. Saham ARCI menguat 0,53 persen ke level Rp1.910, sementara saham HRTA naik 1,59 persen menjadi Rp2.560.

Melihat tren yang ada, Indo Premier Sekuritas melaporkan Goldman Sachs mempertahankan pandangan bullish. Bank investasi global tersebut memperkirakan harga emas masih memiliki ruang pertumbuhan menuju US$4.900 per troy ounce pada Desember 2026.

Faktor pendorong utamanya adalah permintaan bank sentral yang tinggi secara struktural serta siklus pemangkasan suku bunga Fed.

Editorial Team