Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan koreksi, Jumat (16/12), setelah ditutup 0,73 persen di level 6.751 kemarin sore.
Sebab, menurut CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, indeks acuan saham tampak masih betah di fase konsolidasi wajar walau peluang kenaikan jangka panjang masih ada.
“Potensi tekanan jangka pendek masih membayangi, sehingga momentum tekanan dapat terus investor manfaatkan secara jangka menengah hingga panjang, “ujarnya.
Ia pun memproyeksikan IHSG melaju di kisaran support 6.676 dan resisten di 6.874. Saham-saham pilihannya, yakni: BINA, DMAS, ASRI, PWON, VTRA, WTON, BBCA, HMSP, dan ASII.
Dari pasar global, Bank Sentral Eropa resmi dongkrak suku bunga sebanyak 50 basis poin. Bank Sentral Eropa pun mengindikasikan kenaikan akan berlanjut dalam jangka panjang guna mengendalikan inflasi Eropa.
“Ini tentu saja memberi sentimen yang buruk pada penutupan tahun 2022 ini, dan ternyata juga makin menurunkan harapan akan adanya potensi window dressing di akhir tahun,” kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus.
Ia menambahkan, laporan ritel Amerika yang tak sesuai ekspektasi pun menimbulkan kekhawatiran inflasi akan berdampak pada konsumen. Pada akhirnya, Nico menyebut hal itu dapat memberatkan IHSG dan pasar obligasi di akhir pekan ini.
Ia pun memproyeksi IHSG melemah di kisaran 6.715 sampai 6.825. Sejumlah saham pilihannya, yakni: WSKT, HRUM, dan ADMR.
