IHSG di Ujung Support 6.000, Jebol Bisa Meluncur ke 5.854

IHSG diproyeksikan melemah setelah turun 1,88 persen ke 6.031,28; area 6.000-6.019 menjadi support krusial, sementara penembusan 6.000 berisiko membawa indeks ke 5.854.
Pasar menanti data penjualan ritel Agustus yang diproyeksikan tumbuh 1,3 persen secara tahunan, serta memantau yield UST, pergerakan rupiah terhadap dolar AS, dan harga minyak.
Lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah dan gangguan pasokan meningkatkan kekhawatiran inflasi; dampaknya bagi IHSG bearish hingga netral, namun berpotensi mendukung saham energi dan komoditas.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melemah lagi pada perdagangan Jumat (9/10), setelah ditutup turun 1,88 persen ke 6.031,28.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan IHSG secara teknikal berpotensi menguji level psikologis 6.000 dengan 6.019 sebagai support terdekat.
Fokus utama adalah mempertahankan area 6.000-6.019.
"Apabila support tersebut berhasil bertahan, tekanan jual berpotensi mereda, namun break 6.000 akan meningkatkan risiko bearish dengan downside berikutnya menuju 5.854," kata Reza.
Pada Jumat ini, fokus pasar akan tertuju pada penjualan ritel Indonesia periode Agustus, yang diproyeksikan tumbuh 1,3 persen (YoY). Angka itu lebih tinggi dari periode Juni, yakni 1,1 persen (YoY). Data itu akan menjadi indikator penting dalam melihat keberlanjutan pemulihan konsumsi domestik.
Sementara dari eksternal, investor tetap mencermati yield UST, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan harga minyak di tengah bias hawkish Fed.
Saham-saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah JECX, VICI, dan WIFI.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI), M. Nafan Aji Gusta, mengatakan para pelaku investor global menyoroti lonjakan harga minyak dan meningkatknya kekhawatiran inflasi, setelah eskalasi konflik di Timur Tengah terkait spekulasi aksi militer AS terhadap Iran kembali menimbulkan risiko terhadap pasokan dan jalur pelayaran minyak.
Harga Brent sempat naik 3,87 persen pada level US$104,08 per barel. Sementara harga Crude Oil WTI naik 3,29 persen pada level US$91,18 per barel.
Selain faktor geopolitik, penyebab lonjakan harga minyak itu adalah gangguan pasokan akibat penutupan sementara fasilitas produksi di Teluk Meksiko menghadapi ancaman Siklon Tropis Isaias.
"Kenaikan harga energi tersebut dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, sehingga membuat bank sentral global, khususnya Fed, lebih sulit melakukan pelanggaran moneter," kata Nafan.
Bagi IHSG, dampaknya cenderung bearish to neutral, tetapi berpotensi positif bagi saham energi dan komoditas. Saham-saham pilihan MASI hari ini adalah ADMR, AMRT, dan MEDC.














