Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
IMG-20260128-WA0036.jpg
Laju IHSG pada Rabu (28/1).

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas pada Selasa (3/2), selepas terkoreksi 4,88 persen ke level 7.922.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG akan melaju terbatas di antara support 7.858 dan resisten di 8.089, seraya mewaspadai potensi tekanan jual lanjutan.

"Pasar cenderung wait and see menantikan hasil komunikasi regulator dan MSCI terkait transparansi pasar, serta langkah kebijakan awal dari kepemimpinan baru regulator," kata Reza dalam riset hariannya.

Kemarin, tercatat aksi beli asing senilai Rp593,35 miliar. Tekanan indeks masih terpusat pada saham-saham konglomerasi, seiring berlanjutnya narasi MSCI. Sentimen lain berasal dari rilis data inflasi Januari yang meningkat ke level 3,55 persen (YoY) dan surplus neraca perdagangan yang berlanjut selama 68 bulan.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini, meliputi: INDF, MYOR, dan UNVR.

Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memprediksi IHSG menguat setelah menguji 38,2 persen fibonacci retracement disertai dengan indikator RSI yang menunjukkan oversold. Ia memperkirakan IHSG bergerak di antara support 7.836 dan 7.701 serta resisten 8.054 dan 8.210.

Nafan mencatat, OJK, BEI, dan KSEI menyampaikan usulan solusi kepada MSCI yang mencakup peningkatan transparansi pengungkapan kepemilikan saham dengan porsi di bawah 5 persen, hingga di atas 1 persen, serta perluasan likuiditas pasar; rencana kenaikan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen secara bertahap, dengan target implementasi awal bisa dicapai Maret 2026; serta penguatan kualitas data investor, melalui klasifikasi 27 sub-tipe investor di KSEI dan komitmen update berkala ke publik, dengan MSCI siap memberi guidance metodologi evaluasi.

Dari eksternal, market masih memprediksi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di pertemuan berikutnya, namun sinyal pemangkasan lanjutan di pertengahan 2026 tetap terbuka lebar jika inflasi tetap terkendali.

"Di sisi lain, optimisme terhadap kinerja laporan keuangan emiten big tech serta penantian data tenaga kerja menjadi sentimen bagi pasar," kata Nafan dalam risetnya.

Editorial Team