Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG Diproyeksi Menguat Akhir Pekan, Walau Sentimen Bias Negatif
IHSG saat menembus level 9.000, Rabu (14/1).

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat pada Jumat (24/7), setelah ditutup turun 0,3 persen ke level 6.315,31.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG terbatas dengan support 6.200 dan resisten 6.400. Selama bertahan di atas area support, peluang melanjutkan tren kenaikan masih terbuka.

"Meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring meningkatnya risiko geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia," kata Reza dalam riset hariannya.

Pasar hari ini akan mencermati meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah setelah kelompok Houthi menyerang kapal tanker Saudi di Laur Merah. Sementara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih menutup peluang negosiasi.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak brent melonjak lebih dari 6 persen mendekati US$100 per barel, meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan tekanan inflasi.

Di sisi domestik, perhatian investor mulai beralih pada musim rilis kinerja keuangan emiten semester-I 2026, yang diperkirakan menjadi katalis pergerakan saham dalam jangka pendek.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah ELSA, NCKL, dan MEDC.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG mengalami overheat pada MA60 resistance akibat faktor profit taking. Bahkan, pergerakan IHSG ditutup persis pada MA60 lagi serta membentuk pola bearish pin bar. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif sementara RSI sudah menunjukkan kondisi overbought atau jenuh beli, namun volume mengalami penguatan.

Aksi jual bersih sebesar Rp712,21 miliar menunjukkan investor asing masih melanjutkan sikap risk-off terhadap aset Indonesia. Untuk perdagangan Jumat, 24 Juli 2026, sentimen IHSG cenderung netral dengan bias negatif.

Dari global, ketegangan geopolitik AS–Iran masih menjadi faktor risiko utama yang memperburuk sentimen market. Adapun harga minyak dunia Brent sudah menembus US$100 per barel memicu kekhawatiran bahwa inflasi kembali meningkat, sehingga para pelaku pasar memperkirakan suku bunga berpotensi bertahan higher for longer, yang pada umumnya kurang kondusif bagi pasar saham emerging markets.

Bahkan yield obligasi pemerintah AS terus mengalami kenaikan, mencerminkan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, serta memberikan tekanan tambahan terhadap growth stocks yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Berbagai sentimen ini juga turut menyebabkan rupiah saat ini terdepresiasi 0,11 persen menjadi Rp17.936 per dolar AS.

Dari sisi domestik, keputusan BI mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen mengurangi ketidakpastian kebijakan moneter dan memberi kepastian bagi para pelaku pasar. Hal itu mengingat BI memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah sehingga memberikan rasa aman bagi para investor institusi.

Selain itu, kehadiran SRUK serta maraknya aksi value unlocking pada berbagai saham konglomerasi seperti BREN, BRMS, dll., terus menjaga rotasi likuiditas tetap hidup.

Para pelaku investor cenderung bersikap prudent menanti rilis kinerja Semester I-2026. "Berbagai sentimen dari domestik ini sejatinya dapat membatasi tekanan jual sehingga bila kejadian pelemahan IHSG berlaku, maka diperkirakan tidak terlalu dalam," kata Nafan.

Saham-saham pilihannya adalah ACES, BSDE, dan ICBP.

Editorial Team

Related Article