Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

IHSG Diproyeksikan Melemah, Support 5.850 Jadi Penentu

2 min read
IHSG Diproyeksikan Melemah, Support 5.850 Jadi Penentu
Ilustrasi perdagangan di bursa saham. (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)
  • IHSG diproyeksikan kembali melemah setelah turun 2,59 persen ke 5.936,15. Support 5.850-5.900 menjadi penentu, sedangkan resistance terdekat berada di 6.000-6.019.
  • Pasar mencermati konflik Timur Tengah, harga minyak, serta data inflasi AS September. Inflasi di atas konsensus berpotensi menguatkan dolar AS dan menekan rupiah serta arus dana asing.
  • Investor asing mencatat beli bersih Rp128,29 miliar, tetapi secara year to date masih jual bersih Rp111,19 triliun. Rupiah bergerak sekitar Rp17.900 per dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melemah kembali pada Selasa (13/10), setlah ditutup turun 2,59 persen ke 5.936,15 pada akhir perdagangan Senin (12/10).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG telah menembus level psikologis 6.000, sedangkan pola rising wedge dan head and shoulders serta MACD yang masih negatif mengindikasikan tekanan bearish.

"Fokus berikutnya adalah mempertahankan support 5.850-5.900. Jika zona ini ditembus, risiko pelemahan lanjutan meningkat. Sementara itu, 6.000-6.019 menjadi resisten terdekat yang perlu direbut kembali untuk meredakan tekanan jual," jelas Reza.

Pada perdagangan Selasa ini, pasar akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah dan pergerakan harga minyak. Selain itu, investor mulai mengantisipasi rilis CPI Amerika Serikat periode September pada Rabu (14/10), dengan konsensus inflasi tahunan naik menjadi 3,6 persen dari 3,4 persen pada Agustus.

Reza menilai, jika realisasi melampaui ekspektasi, dolar AS berpotensi menguat dan menambah tekanan terhadap rupiah serta arus dana asing ke pasar domestik.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah INKP, INTP, dan ERAA.

Kemarin, tekanan jual dipengaruhi oleh kombinasi eskalasi konflik Arab Saudi dan Houthi di Yaman. Pasar juga mencermati evaluasi MSCI menjelang tinjauan indeks November, termasuk kebijakan pembekuan FIF dan NOS serta risiko klasifikasi Indonesia. Investor pun mengantisipasi data inflasi AS yang berpotensi memengaruhi arah suku bunga global.

Di tengah pelemahan pasar, Kiwoom Sekuritass melaporkan, investor asing masih mencatatkan aksi beli bersih senilai Rp128,29 miliar di seluruh pasar, terdiri dari Rp81,10 miliar di pasar reguler dan Rp47,18 miliar di pasar tunai dan negosiasi. Meski demikian, secara year to date, akumulasi aksi jual asing masih mencapai Rp111,19 triliun.

Aliran dana asing terutama masuk ke saham GOTO, BBRI, ASII, VKTR, TINS, ERAA, BRMS, SMGR, MEDC, dan MDKA, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada BMRI, BBCA, BUMI, ANTM, DEWA, ISAT, DSSA, TLKM, EXCL, dan BDMN.

Di pasar valuta asing, rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 per dolar AS di tengah sentimen domestik dan risiko eksternal yang masih membayangi.

Secara teknikal, IHSG telah menembus level support, sementara RSI (14) kembali turun ke level 33, mengindikasikan tekanan jual yang masih kuat. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, mengatakan, indeks berpotensi menguji support 5.839, dengan pelemahan lanjutan membuka peluang menuju 5.805–5.774 yang merupakan area gap.

"Sebaliknya, apabila mampu berbalik menguat, IHSG berpeluang menguji level 5.973–5.995, sebelum menuju 6.098 yang merupakan area EMA10," kata Liza.

Saham-saham yang masuk pantauan Kiwoom hari ini adalah JPFA, MEDC, TAPG, dan TINS.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More