Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menyentuh level all time high (ATH) atau tertinggi sepanjang masa pada Rabu (7/1), setelah ditutup naik 0,13 persen di level 8.944. Bagaimana dengan proyeksi laju IHSG hari ini (8/1)?
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, momentum pergerakan IHSG masih positif, namun terbatas. Ia memprediksi IHSG menguji resisten di antara 8.960-8.970 dengan support 8.895-8.910.
"Indikator jangka pendek mengindikasikan kondisi overbought, sehingga risiko taking profit tetap perlu diantisipasi," kata Reza dalam risetnya.
Dari sisi flow, selain berlanjut di komoditas nikel dan emas, minat pasar mulai masuk ke tema waste to energy (WTE), seiring dengan rencana pemerintah membangun 34 proyek WTE pada 2026.
Daftar saham yang masuk dalam pantauan BRIDS hari ini, yakni: TOBA, ANTM, dan PPRI.
Senada dengan BRIDS, Phintraco Sekuritas juga memandang IHSG hari ini dapat lanjut menguat berdasarkan histogram positif MACD. Akan tetapi, momentum beli mulai melemah dan stochastic RSI sudah di area overbought.
"Sehingga perlu diwaspadai potensi terjadinya aksi profit taking, terutama jika ketegangan geopolitik global kembali memanas. IHSG diperkirakan bergerak di area support 8.850-8.900 dan resisten di 8.970-9.000," kata tim riset Phintraco Sekuritas.
Saham-saham yang Phintraco Sekuritas soroti hari ini, yaitu: AADI, ADRO, JSMR, BUKA, dan PGEO.
Dari segi sentimen, ada sejumlah hal yang perlu dicermati menurut Phintraco Sekuritas. Pertama, rencana pemerintah memangkas target produksi mineral dan batu bara yang tercantum dalam RKAB tahun 2026.
Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk mengendalikan keseimbangan pasokan dan permintaan sehingga diharapkan dapat memulihkan harga mineral dan batu bara yang mengalami penurunan pada tahun lalu akibat kelebihan pasokan. Kebijakan itu diharapkan akan berdampak positif terhadap saham terkait.
Sementara itu, Presiden Prabowo mengumumkan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras dalam waktu satu tahun (7/1), serta berencana merealisasikan swasembada untuk komoditas pangan lainnya secara berturut-turut setiap tahun. Hal ini sejalan dengan program ketahanan pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Investor akan menantikan data cadangan devisa Indonesia bulan Desember 2025 (8/1). Dari Jepang (8/1), akan dirilis data keyakinan konsumen periode Desember yang diperkirakan membaik. Dari Euro Area dijadwalkan akan dirilis sejumlah data ekonomi (8/1), seperti sentimen ekonomi, tingkat pengangguran, dan keyakinan konsumen.
