Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Indeks PMI Kontraksi, Laju IHSG Diproyeksi Masih Terbatas
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melaju terbatas pada perdagangan Selasa (5/5), setelah ditutup naik 0,22 persen.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, memproyeksikan IHSG hari ini bergerak di antara kisaran support 6.920 dan 7.000 serta resisten antara 7.100 dan 7.160. Saham-saham yang ia soroti adalah ITMG, PADI, dan SRTG.

"Katalis utama yang menjadi perhatian adalah nilai mata uang rupiah per hari ini menembus level 17,400 sembari menunggu rilis pertumbuhan PDB kuartal-I Indonesia yang diproyeksi bakal melandai," kata Reza dalam riset hariannya.

Kemarin, penguatan tipis IHSG disertai dengan aksi jual bersih asing sebesar Rp791M di pasar reguler. Sebelumnya IHSG sempat dibuka menguat hingga mencapai level 7.069. Namun pada sesi II, justru IHSG berbalik tertekan.

Beberapa rilis data ekonomi menjadi sentimen utama seperti nilai neraca perdagangan yang menyusut dengan nilai ekspor yang menyusut 3,1 persen secara YoY dan tingkat inflasi di angka +0,13 persen secara MoM. Rilis data itu merupakan efek dari konflik yang belum usai dari timur tengah yang menekan beberapa sektor dan aspek ekonomi.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas meniai, secara teknikal, indikator stochastic RSI membentuk golden cross di area oversold. Namun pembentukan histogram negatif MACD masih berlanjut meskipun dengan laju yang mulai melemah.

"Sehingga IHSG diperkirakan akan berkonsolidasi di kisaran level 6.900-7.100," demikian dilansir dari riset Phintraco Sekuritas.

Indeks PMI Manufacturing Indonesia memasuki area kontraksi di bulan April 2026 dengan turun ke level 49,1 dari 50,1 pada Maret 2026. Itu merupakan level terendah sejak Juni 2025. Penurunan itu disinyalir sebagai dampak dari konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan. Sementara itu surplus neraca perdagangan  juga mengalami penurunan menjadi US$3,32 miliar pada Maret 2026 dibandingkan dengan US$4,33 miliar pada Maret 2025, akibat penurunan ekspor sebesar 3,1 persen (YoY) dan impor naik 1,51 persen (YoY).

Namun surplus tersebut membaik jika dibandingkan dengan surplus Februari 2026 yang sebesar US$1,28 miliar, meskipun di bawah estimasi yang sebesar US$4,2 miliar. 

Inflasi tahunan melambat di level 2,4 persen (YoY) pada April 2026 dari 3,48 persen (YoY) pada Maret 2026, yang merupakan level terendah sejak Agustus 2025. Phintraco Sekuritas mencatat, penurunan itu terutama karena perlambatan kenaikan harga pangan dan perumahan.

Selanjutnya investor akan menantikan data PDB 1Q26 yang diperkirakan kontraksi 0,7 persen (QoQ) dari pertumbuhan 0,86 persen (QoQ) pada kuartal-IV 2025 dan tumbuh 5,6 persen (YoY) dari 5,39 persen (YoY) pada kuartal-IV 2025 (5/5).

"Sementara itu diberitakan pemerintah akan segera memberlakukan bea keluar dan windfall tax untuk komoditas nikel dalam rangka menutup biaya subsidi BBM," kata tim Phintraco.

Daftar saham pilihan Phintraco hari ini adalah INDF, MAPI, AMRT, PGEO, dan JPFA.

Editorial Team