Jakarta, FORTUNE - Investasi kecerdasan buatan (AI) dinilai akan bergeser dari perusahaan penyedia infrastruktur ke perusahaan yang mampu mengubah adopsi AI menjadi pertumbuhan produktivitas dan laba.
Chief Investment Officer DBS Bank, Hou Wey Fook, mengatakan pergeseran tersebut tak berarti menandakan berakhirnya era AI, melainkan era baru AI memasuki fase penciptaan nilai berikutnya dari teknologi tersebut
"Kami tetap optimis terhadap perusahaan yang akan memperoleh manfaat jangka panjang dari AI, namun kami lebih memilih perusahaan yang mengadopsi teknologi ini dengan kebutuhan belanja modal (capex) lebih rendah," katanya dalam konfrensi pers secara virtual, Senin (28/9).
Di Amerika Serikat, investasi terkait AI dan konsumsi masih tetap tangguh masih menopang perekonomian negara tersebut Sementara itu, Eropa dan Jepang mencatatkan kinerja lebih baik dari perkiraan meski menghadapi kenaikan biaya energi.
Di Asia, ekspor teknologi dan investasi manufaktur yang kuat membantu mengimbangi permintaan domestik Cina yang melemah. Ketahanan ekonomi tersebut memberikan ruang bagi sejumlah bank sentral untuk tetap berfokus pada pengendalian inflasi sehingga memperkuat kemungkinan pengetatan kebijakan moneter yang berlangsung relatif serentak, tetapi dengan intensitas yang berbeda-beda.
DBS pun mempertahankan eksposur terhadap perusahaan penyedia infrastruktur AI. Namun, strategi investasi juga diarahkan ke perusahaan pengguna AI yang mampu mengubah peningkatan produktivitas menjadi keuntungan finansial tanpa harus memiliki pusat data atau aset pembangkit energi yang membutuhkan capex besar.
DBS merekomendasikan pendekatan strategi barbell, yakni mempertahankan eksposur pada perusahaan penyedia infrastruktur AI sekaligus menambah investasi pada perusahaan yang mampu mengoptimalkan peningkatan produktivitas menjadi keuntungan finansial, tanpa harus memiliki pusat data atau aset pembangkit energi yang membutuhkan belanja modal besar.
