Selain perubahan kepemilikan, TGUK memperluas kegiatan usahanya ke bisnis makanan beku atau frozen food. Perubahan tersebut berlangsung ketika perseroan sebelumnya menghadapi tekanan pada kinerja bisnis minuman.
Pada semester I 2025, penjualan bersih TGUK turun 97,31 persen menjadi Rp1,76 miliar dari Rp65,75 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada segmen minuman dan makanan.
Pendapatan minuman turun menjadi Rp1,6 miliar dari Rp60,88 miliar. Sementara itu, pendapatan makanan tercatat Rp127,28 juta dari Rp4,87 miliar.
Tekanan tersebut membuat TGUK membukukan rugi bersih Rp8,43 miliar pada semester I 2025. Perseroan juga melakukan efisiensi operasional.
Jumlah karyawan turun menjadi 88 orang pada Oktober 2024 dari 628 orang pada Desember 2023. Di satu sisi, jumlah gerai dikurangi menjadi 35 outlet.
Kinerja TGUK kemudian berubah pada semester I 2026 setelah bisnis frozen food mulai memberikan kontribusi. Perseroan membukukan pendapatan Rp327,35 miliar dan laba bersih Rp2,5 miliar sepanjang enam bulan pertama 2026.
Angka tersebut berbalik dari kondisi pada semester I-2025 ketika pendapatan hanya Rp1,76 miliar dan perseroan mencatat rugi bersih Rp8,43 miliar.