Jakarta, FORTUNE - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, hingga kini terdapat 26,7 juta investor pasar modal. Dari jumlah tersebut, sebanyak 54 persen diantaranya adalah gen Z atau investor muda berusia di bawah 30 tahun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan di tengah perkembangan teknologi digital dan ketidakpastian global, masyarakat perlu memiliki pemahaman investasi memadai agar mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak.
“Yang menggembirakan, mayoritas investor tersebut berasal dari kelompok usia muda. Artinya generasi muda, termasuk adik-adik mahasiswa, akan menjadi penggerak utama Pasar Modal Indonesia sekarang dan di masa depan,” kata Hasan Fawzi, Selasa (20/5).
Meskipun sudah semakin banyak investor muda masuk pasar modal, Hasan menyebut bahwa literasi dan inklusi keuangan nasional masih minim. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025, tingkat literasi Pasar Modal Indonesia baru mencapai 17,78 persen.
Menurut Hasan, rendahnya tingkat literasi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama karena masih membuka celah bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk menawarkan investasi bodong, investasi palsu, hingga melakukan berbagai modus penipuan.
Hasan pun menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadapberbagai bentuk penipuan keuangan digital yang berkembang pesat saat ini.
“Kalau ada tawaran investasi, periksa dulu legal atau tidak. Apakah pihak yang menawarkan memiliki izin? Apakah produknya terdaftar di OJK atau otoritas terkait? Kemudian yang kedua, logis atau tidak. Kalau imbal hasil yang ditawarkan terlalu tinggi, terlalu muluk, dan tidakmasuk akal, maka kita harus waspada,” ujar Hasan.
Menurutnya, pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, investasi, dan pasar modal akan menjadi semakin penting agar generasi muda mampu mengambil keputusan investasi secara cerdas, bijak, dan bertanggung jawab.
OJK berharap perluasan literasi dan inklusi pasar modal dapat semakin memperkuat partisipasi investor domestik, khususnya generasi muda, sekaligus mendukung pembiayaanpembangunan daerah yang berkelanjutan.
