Jakarta, FORTUNE - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih terbatas pada Senin (25/5), setelah ditutup naik 1,10 persen di level 6.162 pada akhir pekan lalu.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, memprediksi IHSG hari ini melaju di antara support 6.100 dan resisten 6.400. Saham-saham pilihannya adalah CPIN, HRTA, dan ESSA.
"Pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan terkait regulasi sentralisasi ekspor komoditas strategis, terutama mengenai mekanisme dan implementasinya yang sejauh ini masih memunculkan berbagai interpretasi dari sejumlah pihak," kata Reza dalam riset hariannya.
Pada Jumat (22/5) lalu, IHSG rebound didorong oleh adanya rumor penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor batu bara dan komoditas strategis lain yang dikendalikan negara hingga 1 Januari 2027. Selain itu, secara teknikal, IHSG telah berada di level support pentingnya, yakni 5.900-6.000, sehingga terjadi rebound teknikal.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menilai, secara teknikal, IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI. Mengingat IHSG telah berhasil menguji target “wave 5 / A alt.” dan membentuk pola bullish pin bar. Untuk itu, diharapkan mulai terjadi fase pelemahan terbatas.
"Peluang technical rebound dapat terjadi terutama pada saham-saham big caps yang sudah terkoreksi dalam. Sektor energi dan komoditas masih berpotensi relatif kuat karena mendapat dukungan dari tingginya harga energi global," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta.
Dari segi sentimen global, para pelaku pasar merespons positif pernyataan Presiden Trump mengenai kesepakatan perdamaian dengan Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz sebagian besar telah selesai dinegosiasikan dan akan segera diumumkan. Apabila terealisasi, langkah tersebut berpotensi mengakhiri konflik yang selama beberapa bulan terakhir mengganggu pasar energi global dan mendorong kenaikan inflasi di AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, rupiah terpantau masih berada di level yang cukup rentan dengan melemah 0,28 persen menjadi Rp17.717 per dolar Amerika Serikat (AS), meskipun Bank Indonesia (BI) sebelumnya sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps. Para investor cenderung wait and see melihat efektivitas intervensi BI dalam menstabilkan kurs.
Di sisi lain, dinamika seputar pengembangan proyek industri dan arah kebijakan dari otoritas investasi Danantara. "Khususnya terkait rencana sentralisasi ekspor komoditas melalui PT. Danantara Sumberdaya Indonesia, terus memberikan pengaruh yang substansial terhadap sentimen pasar," tulis Nafan dalam risetnya.
Ia memperkirakan IHSG hari ini bergerak di antara support 6.081 dan 5.858 serta resisten di 6.252 dan 6.347. Saham-saham pilihannya adalah AKRA, BBTN, dan INCO.
