Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
541ae5dd-6ef0-4e7b-93a7-5c26f2c93d4b.jpeg
ilustrasi Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Dok Fortune Indonesia

Intinya sih...

  • Kontribusi terhadap PDB naik dari 56 persen pada akhir 2024.

  • Porsi transaksi investor ritel lebih tinggi dibandingkan negara lain.

  • Investor ritel Indonesia yang lebih dari 70 persen adalah Gen Y dan Gen Z melihat bursa sebagai sumber pendanaan jangka menengah dan panjang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan perdana pada 2026 di zona hijau. Saat berlangsung pembukaan Jumat (2/1), indeks menguat 23,26 poin atau 0,27 persen ke level 8.670,20.

Performa positif ini melanjutkan tren pertumbuhan sepanjang 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kontribusi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat signifikan. Pada akhir 2024, kontribusi tercatat sebesar 56 persen, kemudian melonjak menjadi 72 persen pada akhir 2025.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan pasar saham Indonesia masih memiliki potensi pengembangan yang sangat luas. Pasalnya, meski terus bertumbuh, nilai kontribusi tersebut masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga.

Sebagai perbandingan, kontribusi pasar saham India terhadap PDB telah mencapai 140 persen, disusul Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen.

“Yang artinya potensi pengembangan masih lebih besar lagi,” ujar Mahendra dalam pembukaan perdagangan BEI di Jakarta, Jumat (2/1).

Mahendra juga memaparkan perubahan struktural pada sisi basis investor. Porsi transaksi investor ritel melesat dari 38 persen di akhir 2024 menjadi 50 persen pada penghujung 2025.

Pertumbuhan ini dinilai sangat pesat, terutama jika dibandingkan dengan negara lain yang basis pasarnya masih didominasi oleh investor institusional, baik dari dalam maupun luar negeri. Kondisi ini menuntut penguatan regulasi demi menjaga stabilitas pasar.

“Artinya semakin meningkatkan urgency penguatan aspek pelindungan termasuk melindungi investor ritel dari praktik kemungkinan goreng-goreng saham, transaksi tidak wajar, serta kemungkinan bentuk manipulasi lainnya,” kata Mahendra.

Sejalan dengan hal tersebut, OJK memandang penguatan operasi dan edukasi yang masif, tepat sasaran, serta berkualitas menjadi sangat menentukan. Hal ini penting untuk menjamin partisipasi investor ritel yang sehat dan berkelanjutan.

Apalagi, lebih dari 70 persen investor ritel Indonesia saat ini didominasi oleh Gen Y dan Gen Z. Kelompok ini disebut tidak lagi melihat pasar saham sekadar sebagai tempat transaksi harian untuk mengejar keuntungan jangka pendek.

“Justru menjadikannya salah satu sumber pendanaan untuk jangka menengah dan panjang dalam meningkatkan kesejahteraan keuangan mereka,” ujarnya.

Sebagai catatan, IHSG menutup 2025 pada level 8.646,94, atau menguat 22,13 persen sepanjang tahun. Meski demikian, Mahendra memberikan catatan evaluasi terkait integritas pasar.

Ia menyoroti indeks LQ45—yang berisi saham-saham dengan kapitalisasi besar dan menjadi rujukan investor global—hanya tumbuh 2,41 persen. Angka ini terpaut jauh di bawah kenaikan IHSG secara keseluruhan.

Hal ini mempertegas perlunya perbaikan ekosistem secara berkelanjutan agar tercipta pasar modal yang efisien dan berfungsi dengan baik.

Berdasarkan data perdagangan BEI pada awal pembukaan hari ini, volume transaksi mencapai 1,97 miliar saham dengan nilai Rp1,05 triliun. Adapun frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 157.768 kali transaksi.

Editorial Team