Jakarta, FORTUNE - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan penurunan laba bersih sebesar 43 persen menjadi Rp2,93 triliun sepanjang 2025. Penurunan ini disebabkan pelemahan harga jual batu bara sehigga mendorong kenaikan beban operasional.
Pada pos pendapatan usaha, PTBA mengantongi Rp42,65 triliun, turun tipis jika dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai Rp42,76 triliun.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menjelaskan bahwa kinerja pendapatan didukung oleh peningkatan aktivitas produksi dan penjualan. Sepanjang 2025, volume produksi tercatat mencapai 47,1 juta ton, tumbuh 9 persen secara tahunan. Sejalan dengan itu, volume penjualan naik 6 persen menjadi 45,4 juta ton.
Seiring meningkatnya volume produksi, volume penjualan batu bara PTBA nauk 6 persen menjadi 45,4 juta ton. Adapun, volume penjualan perseroan hingga kini didominasi pasar domestik sebesar 24,7 juta ton. Sementara penjualan ekspor sebesar 20,6 juta ton atau naik dua persen, meliputi Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.
Penjualan domestik masih menjadi kontributor utama dengan volume 24,7 juta ton. Sementara itu, penjualan ekspor mencapai 20,6 juta ton atau meningkat 2 persen secara tahunan, dengan tujuan utama ke sejumlah negara seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.
Namun demikian, perbaikan kinerja operasional belum mampu sepenuhnya mengimbangi tekanan dari sisi harga.
Indeks Newcastle Coal Index (NCI) melemah hingga 22 persen, sementara ICI-3 terkoreksi 16 persen secara tahunan. Akibatnya harga jual rata-rata batu bara turun 6 persen secara tahunan.
"Di tengah tekanan harga batu bara global sepanjang 2025, PTBA tetap mampu mempertahankan kinerja operasional yang solid," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (1/4).
Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan meningkat lima persen menjadi Rp36,39 triliun. Kenaikan ini turut dipengaruhi oleh lonjakan biaya energi, seiring kebijakan pencabutan subsidi komponen FAME pada biodiesel serta implementasi mandatori B40. Dampaknya, harga bahan bakar minyak (BBM) per liter meningkat sekitar 13 persen secara tahunan, yang berimbas langsung pada biaya operasional, baik untuk kegiatan penambangan maupun transportasi kereta api.
Di samping itu, beban umum dan administrasi naik sebesar Rp261,88 miliar atau 13 persen, diikuti kenaikan beban penjualan sebesar tiga persen atau sebesar Rp23,58 miliar.
Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp43,92 triliun, meningkat 5 persen secara tahunan. Sementara itu, total liabilitas meningkat dari Rp19,14 triliun menjadi Rp21,30 triliun, terutama akibat bertambahnya pinjaman bank. Sedangkan, ekuitas tercatat relatif stabil, meski sedikit menurun dari Rp22,64 triliun menjadi Rp22,62 triliun pada akhir 2025.
