Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Mengapa 'Survival Mode' Jadi Strategi Utama Investasi di Tengah Tekanan Fiskal
Kartika Sutandi (tengah), CMO Jarvis Asset Management, dan Jason Nathanael (kanan), pakar investasi, saat berbicara pada sesi bertajuk "Golden Hours" yang digelar Nanovest di Jakarta (26/2/2026). Dok: Nanovest

Jakarta, FORTUNE - Nanovest baru saja menyelenggarakan sebuah acara bincang-bincang bertajuk “Golden Hours” untuk memetakan arah kecenderungan investasi di tengah ancaman penurunan peringkat kredit Indonesia dan volatilitas ekonomi global. Acara yang dikemas dalam sesi pra-iftar di Jakarta ini menjadi ruang bedah strategi bertahan (survival mode) bagi investor dalam menghadapi dinamika pasar yang sulit diprediksi.

Isu mengenai penyesuaian indeks MSCI yang sempat menekan IHSG dinilai tidak lebih mengkhawatirkan dibandingkan sinyal dari lembaga pemeringkat internasional, S&P. Kartika Sutandi, CMO Jarvis Asset Management, yang biasa dipanggil Tjoe Ay, memberikan peringatan serius mengenai potensi penurunan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif.

"Ini lebih menakutkan daripada isu MSCI. Indonesia menghadapi risiko jika pembayaran bunga utang pemerintah tetap berada di atas 15 persen dari total pendapatan negara. Pilihannya sulit: memangkas belanja atau menaikkan pendapatan. Keduanya berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi," ujar Tjoe Ay dalam acara tersebut, Kamis (26/2).

Ia menambahkan, pemberantasan aktivitas ekonomi ilegal menjadi hal yang menentukan untuk mengalihkan arus kas ke sektor legal guna memperkuat pendapatan negara.

Di tengah kondisi makro yang menantang, Nanovest mencetak kinerja positif sepanjang 2025. Platform ini membukukan kenaikan volume transaksi hingga ~70 persen (YoY) dengan total lebih dari 1,1 juta pengguna terverifikasi. Pertumbuhan ini didorong oleh inovasi produk berbasis Web 3 seperti IDDB, Crypto Staking, dan Gadai Digital.

CMO Nanovest, Jovita Widjaja, mengamati adanya pergeseran perilaku investor, terutama dari kalangan generasi muda, yang kini memasuki fase kedewasaan.

“Tahun 2026 bukan lagi era mengejar keuntungan instan. Fokus investor kini bergeser pada cara membangun portofolio yang sehat dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi pasar yang penuh ketidakpastian,” kata Jovita pada acara yang sama

Para panelis pun memaparkan beberapa sektor yang diprediksi tetap menjadi motor pertumbuhan:

Pertama, saham Amerika Serikat. Sektor finansial seperti JPMorgan serta raksasa teknologi NVIDIA dan Microsoft diprediksi tetap kuat melalui monetisasi nyata kecerdasan buatan (AI).

Kemudian, logam mulia. Emas tetap diposisikan sebagai aset safe haven utama. Namun, perak mulai mencuri perhatian seiring lonjakan kebutuhan infrastruktur pusat data AI yang memerlukan panel surya secara besar-besaran.

Ketiga, saham domestik. Investor disarankan mulai melirik saham fundamental seiring ekspektasi peningkatan arus dana dari institusi seperti dana pensiun dan BPJS.

Selain faktor ekonomi, diskusi tersebut menyoroti pentingnya kepastian hukum sebagai syarat mutlak menarik investasi jangka panjang. Tjoe Ay menekankan bahwa investor membutuhkan jaminan regulasi yang konsisten, terutama saat terjadi transisi kepemimpinan nasional.

Menutup diskusi, Jason Nathanael mengingatkan pentingnya diversifikasi aset yang seimbang.

“Portofolio ideal ke depan bukan lagi soal memilih satu aset terbaik, melainkan mengombinasikan aset pertumbuhan untuk menangkap peluang ekonomi baru dan aset defensif untuk menjaga daya beli,” katanya.

Editorial Team