Jakarta, FORTUNE - Paramount Skydance resmi mengambil alih Warner Bros Discovery melalui transaksi merger senilai US$110 miliar atau lebih dari Rp1.900 triliun.
Akuisisi tersebut menggabungkan dua studio film terbesar di Los Angeles. Transaksi tersebut baru resmi diselesaikan setelah berbulan-bulan melalui perselisihan hukum dan menuai kritik tentang kekhawatiran bahwa konsolidasi dapat berdampak negatif terhadap persaingan industri dan konsumen.
"Sejak awal, ambisi kami adalah menyatukan 2 studio bersejarah ini dan menciptakan pesaing lebih kuat, dengan bakat, sumber daya, dan jangkauan untuk menceritakan kisah-kisah hebat pada setiap genre, setiap platform, untuk penonton di mana pun. Sekarang ambisi itu telah menjadi kenyataan," kata Chairman & CEO Skydance, David Ellison, dikutip dari BBC.
Dengan adanya merger tersebut, sejumlah entitas media dalam jaringan pun dilebur, termasuk HBO, CBS, Nickelodeon, Showtime, Comedy Central, DC Studios, dan Food Network.
Selain itu, Paramount pun akan mengakuisisi kepemilikan film waralaba legendaris seperti Harry Potter, Game of Thrones, dan The Lord of the Rings.
Nantinya, perusahaan hasil merger kedua perusahaan akan berganti nama menjadi Skydance Corporation, perusahaan yang awalnya didirikan oleh David Ellison, sebelum ia mengambil alih Paramount dan Warner Bros Discover.
Pekan lalu Ellison telah menunjuk eks-CEO mattel, Ynon Kreiz, sebagai Co-Chief Executive. Kriez akan berfokus pada operasionalisasi harian perusahaan, termasuk mengintegrasikan bisnis yang baru digabungkan; sedangkan Ellison akan berkonsentrasi pada strategi dan teknologi.
Selain itu, ada Mark Thompson yang akan melanjutkan peran sebagai Chairman & Editor-in-Chief CNN Worldwide. Bari Weiss akan bertahan sebagai Editor-in-Chief CBS News. Kemudian ada Casey Bloys yang akan menjadi Co-Chair dan Chief Content Officer for Direct-to-Consumer Content.
Terkait merger tersebut, Research Director Forrester Research, Mike Proulx, mengatakan perubahan tersebut pada dasarnya berarti tim kepemimpinan HBO saat ini bertanggung jawab atas pengoperasian streaming gabungan Skydance.
"Meskipun hal itu pertanda baik bagi merek HBO, jangan salah, Bloys akan ditekan untuk menemukan dan mewujudkan efisiensi biaya yang dapat memengaruhi kualitas konten," kata Proulx.
Sementara itu, Head of Markets AJ Bell, Dan Coatsworth, menilai perusahaan tersebut memiliki utang tinggi di tengah tren kenaikan suku bunga. Entitas hasil merger, Skydance, perlu memangkas biaya dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar untuk bisa menurunkan utang ke tingkat lebih terkendali.
"Fakta bahwa film Tom Cruise, Digger, rilisan terakhir Warner Bros sebelum merger, mengalami kegagalan besar, merupakan pengingat bahwa industri film bukanlah jaminan menuju kekayaan," kata Coatsworth.
