Jakarta, FORTUNE - Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) menilai putusan terbaru MSCI sebagai perkembangan cukup positif dan sesuai dengan ekspektasi.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan, itu karena risiko reklasifikasi pasar tidak terjadi. Sebelumnya, pada pengumuman di akhir Januari 2026, MSCI menyebutkan pasar modal Indonesia berisiko turun dari emerging market ke frontier market jika tidak memperbaiki masalah transparansi dan fundamental pasar.
"Hanya saja, tetap masih harus berhati-hati karena keputusan akhir [dari MSCI] itu nanti di bulan Mei," kata Rully dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas Indonesia April 2026, Selasa (21/4).
Dari sisi investor, ia memproyeksikan dana pasif asing masih akan melakukan aksi jual (outflow). Itu karena para investor institusi disebut cenderung lebih berhati-hati di tengah penantian keputusan MSCI tersebut.
Mirae Asset Sekuritas sebelumnya telah mengantisipasi penurunan bobot saham Indonesia di indeks MSCI, juga masuknya BREN dan DSSA ke daftar High Shareholding Concentration (HSC). Saham di daftar tersebut pun kini dikecualikan dari indeks MSCI.
"Mau tidak mau memang ini harus kita harus terima," kata Rully. "Ini kan sebenarnya proses pengembangan pasar modal di Indonesia sehingga bisa layak disebut sebagai marketable atau investable. Itu saya rasa tidak bisa diselesaikan hanya dalam beberapa bulan."
