Jakarta, FORTUNE - Dua tahun setelah menyebut kripto sebagai sebuah “pergeseran paradigma” dalam sistem keuangan konvensional, bank investasi asal Amerika Serikat ini kembali melangkah lebih jauh. Morgan Stanley memperdalam ekspansi layanan kriptonya sebagai bagian dari strategi jangka panjang di industri aset digital global.
Kepala Wealth Management Morgan Stanley, Jedd Finn, menyebut dorongan ke kripto mencerminkan perubahan mendasar pada cara kerja infrastruktur keuangan. Ia menilai perkembangan teknologi akan makin menipiskan sekat antara keuangan tradisional (tradfi) dan keuangan terdesentralisasi (defi).
"Ini benar-benar pengakuan bahwa cara kerja infrastruktur layanan keuangan akan berubah," ujar Jedd dikutip dari laman the block.
"Seiring waktu, seiring perkembangan infrastruktur kami, kami akan dapat berbuat lebih banyak dengan memadukan ekosistem keuangan tradisional, atau tradfi, dan keuangan terdesentralisasi, atau defi," katanya.
Mengacu pada theblock.co, Morgan Stanley tengah menyiapkan dompet digital internal serta layanan transaksi kripto utama, yakni Bitcoin (BTC), Ether (ETH), dan Solana (SOL) yang akan terhubung langsung ke ekosistem E-Trade.
Perusahaan melihat potensi besar dari penggabungan kedua ekosistem tersebut, terutama untuk memenuhi kebutuhan generasi investor baru yang semakin akrab dengan aset digital. Peluncuran layanan ini ditargetkan berlangsung pada paruh kedua 2026, seiring pematangan sistem teknologi dan kesiapan aspek kepatuhan regulasi.
Langkah tersebut menandai pergeseran besar sikap Wall Street terhadap kripto. Jika sebelumnya dipandang sebagai instrumen berisiko tinggi di luar arus utama, kini aset digital justru dianggap sebagai bagian integral dari masa depan industri keuangan.
Strategi Morgan Stanley juga sejalan dengan meningkatnya minat investor institusi terhadap kripto, terutama setelah ETF Bitcoin spot membukukan volume transaksi bernilai triliunan dolar.
Di tengah kompetisi ketat antarbank global, ekspansi ini dipandang sebagai upaya Morgan Stanley untuk tetap relevan di tengah percepatan digitalisasi sektor keuangan. Sebagai bagian dari rencana itu, Morgan Stanley akan menyediakan perdagangan Bitcoin, Ether, dan Solana melalui E-Trade, yang selama ini dikenal sebagai platform transaksi saham dan instrumen finansial konvensional bagi investor ritel.
Penguatan infrastruktur kripto ini ditopang oleh investasi senilai US$104 juta atau sekitar Rp1,7 triliun ke Zerohash, perusahaan penyedia infrastruktur aset digital yang akan menjadi mitra utama E-Trade. "Semua ini saling terkait dalam strategi yang lebih luas untuk beradaptasi dengan perubahan di industri dan dalam beberapa kasus mendorong perubahan di industri tersebut," kata Finn.
Pada pekan yang sama, Morgan Stanley juga menyerahkan dokumen pendaftaran S-1 kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) untuk ETF Bitcoin, Ether, dan Solana. Langkah ini cukup mengejutkan, mengingat selama bertahun-tahun bank besar cenderung bersikap konservatif terhadap kripto.
Persetujuan ETF Bitcoin spot pada Januari 2024 menjadi titik balik penting. Sejak diluncurkan, produk tersebut mencatat volume perdagangan kumulatif lebih dari US$1,6 triliun atau sekitar Rp26.872 triliun, dengan aset kelolaan mendekati US$130 miliar atau setara Rp2.183 triliun.
