Jakarta, FORTUNE - MSCI kembali menunda review konstituen saham Indonesia periode Mei 2026 walaupun otoritas pasar modal telah melakukan sejumlah langkah reformasi.
Dalam pengumumannya, MSCI menyaakan masih mengevaluasi konsistensi, ruang lingku, dan efektivitas penerapan kebijakan baru otoritas pasar modal, termasuk aturan batas minimal free float 15 persen.
Karena langkah tersebut, maka itu berarti tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke indeks MSCI pada evaluasi indeks Mei 2026. "Tidak ada kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), tidak ada penyesuaian jumlah saham beredar dalam indeks, dan tidak ada potensi kenaikan kelas kategori indeks," catat tim riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Selasa (21/4).
Namun, MSCI tetap melakukan menyesuaian terbatas, yang meliputi langkah berikut ini:
Menghapus saham dengan kategori High Concentration Shareholder (HSC).
Menggunakan data pemegang saham di atas 1 persen untuk penyesuaian free float.
Selanjutnya, MSCI akan menaympaikan hasil evaluasi lanjutan pada evaluasi indeks periode Juni 2026.
Sejalan dengan sentimen tersebut, Technical Analyst BRIDS, Reza Diofanda, memperkirakan IHSG masih akan bergerak terbatas. Level 7.700 akan menjadi resisten cukup penting bagi IHSG.
"Selama belum menembus level itu, maka laju akan relatif terbatas dan menutup area gap 7.500," katanya dalam riset harian.
Pasar pun akan mencermati hasil RDG Bank Indonesia, yang diproyeksikan mempertahankan suku bunga di 4,75 persen dengan fokus terhadap aspek inflasi dan stabilisasi mata uang rupiah.
Saham-saham pilihan tim BRIDS hari ini, meliputi: EMAS, BAPA, dan BUKA.
Sementara itu, tim Phintraco Sekuritas menambahkan, secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak sideways di rentang 7.500-7.700. Saham-saham yang mereka soroti hari ini adalah IMPC, BRMS, TAPG, SMDR, dan DSNG.
"Namun, jika IHSG menembus level 7.500, diperkirakan berpotensi menguji level 7.450-7.480," kata tim riset Phintraco.
