Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat kembali pada perdagangan Kamis (19/2), setelah ditutup naik 1,19 persen di level 8.310,23 kemarin (18/2).
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI), M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal IHSG berpeluang naik ke MA20 setelah membentuk pola upward bar. Lebih lanjut, menurutnya, indikator stochastics K_D dan RSI menunjukan sinyal positif dan didukung kenaikan volume.
Dari segi sentimen, ia menggarisbawahi notulen the Fed terbaru yang menunjukkan mereka tidak terburu-buru menurunkan Fed Fund Rate (FFR) karena inflasi yang masih bertahan di atas target 2 persen. "DEngan demikian, BI-Rate diperkirakan akan ditahan di level 4,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah dan proyeksi inflasi," kata Nafan dalam riset hariannya.
Apalagi, selisih suku bunga antara BI dan FFR dinilai belum melebar secara aman.
Sentimen lainnya adalah kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai 'prinsip-prinsip paduan' utama selama perundingan nuklir di Jenewa.
Nafan memproyeksikan IHSG bergerak di antara support 8.210 dan 8.171 serta resisten di kisaran 8.334 dan 8.408. Daftar saham yang ia soroti pada perdagangan hari ini, meliputi: ASII, BBNI, dan BBRI.
Senada dengan MASI, Phintraco Sekuritas juga memperkirakan IHSG melanjutkan penguatan dan menguji level 8.350-8.400. Saham-saham yang masuk daftar pilihan tim riset Phintraco Sekuritas hari ini, mencakup: MEDC, ADMR, TOBA, EMTK, dan BBYB.
"Secara teknikal, terjadi pembentukan golden cross pada indikator MACD IHSG dan didukung oleh kenaikan volume beli. Stochastic RSI masih bergerak di area pivot. IHSG juga ditutup di atas level MA5," demikian dikutip dari riset harian tim analis Phintraco Sekuritas.
Selain hasil Rapat Deawn Gubernur (RDG) BI terkait tingkat suku bunga, pasar juga akan diwarnai oleh rilis data pertumbuhan kredit periode Januari 2026, yang diperkirakan cenderung stabil di level 9,6 persen (YoY).
Kemarin, penguatan IHSG didukung oleh ekspektasi akan kondisi ekonomi yang masih solid, antisipasi kinerja emiten dan pembagian dividen menjadi beberapa faktor yang mendukung optimisme tersebut. Semua sektor menguat dengan kenaikan terbesar pada sektor transportasi. Namun rupiah ditutup melemah di level Rp16.885 per dolar AS di pasar spot, seiring dengan penguatan dolar AS.
Mayoritas indeks di bursa Asia juga ditutup menguat, meskipun terdapat kekhawatiran baru akan dampak sektor AI. Bursa Tiongkok, Hong Kong, Singapura, Taiwan dan Korea Selatan masih tutup karena libur Tahun Baru Imlek.
