Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melaju sideways pada Selasa (27/1), setelah ditutup menguat 0,27 persen ke level 8.975.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, memperkirakan IHSG hari ini bergerak di antara suppor 8.922 dan resisten di 9.035. Saham-saham yang ia soroti hari ini, mencakup: ADRO, AKRA, MDKA, dan MINA.

"Di tengah ketidakpastian global, sektor komoditas, terutama emas, masih menjadi pilihan defensif utama, sembari menunggu keputusan The Fed dan hasil rebalancing MSCI dengan metodologi terbaru," jelas Reza dalam risetnya.

Menurutnya, kemarin IHSG menguat karena ditopang saham-saham komoditas, khususnya emas. Itu sejalan dengan harga emas dunia yang menembus US$5.000 per troy ounce.

Di lain sisi, saham-saham konglomerasi terkoreksi menjelang pengumuman rebalancing MSCI awal Februari 2026. Tekanan eksternal seperti ketidakpastian geopolitik global serta sikap wait and see pasar menjelang keputusan suku bunga The Fed pekan ini juga turut membayangi IHSG.

Kemarin, sektor energi mencatatkan koreksi terbesar, akibat pelemahan pada saham BUMI, PTRO dan DEWA, yang disinyalir karena mengantisipasi pengumuman metodologi perhitungan free-float atas saham-saham di Indonesia oleh MSCI.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto, mengatakan, salah satu faktor yang paling ditunggu oleh pelaku pasar pekan ini memang keputusan MSCI.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas mencatat, secara teknikal, indikator stochastic RSI berada di area oversold namun belum menunjukkan reversal. Namun terjadi pelebaran histogram negatif di MACD.

"Sehingga diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi pada kisaran 8.850-9.100," kata tim riset Phintraco Sekuritas.

Rupiah di pasar spot ditutup menguat di level Rp16.782 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (26/1). Penguatan rupiah itu terjadi di tengah pelemahan indeks Dolar AS menjelang pertemuan The Fed pada pekan ini serta eskalasi ketegangan geopolitik yang melibatkan AS dengan beberapa negara.

Dari pasar domestik, Kementerian Keuangan akan menyiapkan Surat Berharga Negara (SBN) valuta asing domestik khusus sebagai instrumen penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA). Mekanisme penerbitan SBN Valas untuk DHE SDA ini nantinya akan menyerupai skema yang pernah diterapkan pemerintah pada Program Pengungkapan Sukarela (PPS) atau Tax Amnesty Jilid II pada 2022. 

Di tengah berbagai sentimen itu, daftar saham yang masuk pilihan Phintraco Sekuritas, yakni: PGEO, ERAA, JSMR, AKRA, dan MEDC.

Editorial Team