Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan dapat melemah lagi pada Jumat (22/5), melanjutkan koreksi 3,54 persen pada penutupan perdagangan Kamis (21/5).
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG masih berada di dalam tren bearish dengan support terdekat di area 6.000 dan support lanjutan 5.900. Sementara itu, resisten berada di kisaran 6.400.
"Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data current account balance dan M2 Money Supply," kata Reza dalam riset hariannya.
Saham-saham yang masuk dalam pantauan tim BRIDS pada perdagangan hari ini adalah CPIN dan AMRT.
Kemarin, IHSG ditutup di level 6.094 dengan aksi jual bersih senilai Rp508 miliar di pasar reguler. Pelemahan IHSG itu justru terjadi di tengah penguatan bursa utama regional serta penurunan harga minyak dunia, seiring dengan perkembangan positif terkait pembahasan proposal damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pasar juga merespons pernyataan S&P Global Ratings yang menilai wacana pengendalian ekspor berpotensi menekan kinerja ekspor, penerimaan pemerintah, serta meningkatkan risiko terhadap neraca pembayaran Indonesia. Hal tersebut juga memicu kekhawatiran terhadap prospek stabilitas makro ekonomi dan outlook rating Indonesia.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) menyebut IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold dan menunjukkan positive divergence berdasarkan indikator RSI, setelah berhasil menguji target wave 5/A alt. "Diharapkan fase pelemahan terbatas mulai terjadi," kata Senior Technical Analyst MASI, M. Nafan Aji Gusta.
Ia menjelaskan, setelah kejatuhan IHSG kemarin, berbagai saham yang berada di level valuasi yang sangat murah atau deeply undervalued, sehingga kondisi ini berpotensi memicu minat beli selektif dari investor institusi domestic, baik dana pensiun maupun asuransi, untuk melakukan akumulasi bertahap atau bottom fishing, dengan memanfaatkan harga diskon pasca-panic selling.
Dari global, dinamika geopolitik AS-Iran masih menjadi sentimen utama bagi pasar. Para pelaku pasar mencermati terhadap laporan bahwa draf akhir perjanjian perdamaian AS-Iran telah tercapai dengan bantuan mediator Pakistan. Sebagai konteks, perjanjian tersebut mencakup gencatan senjata segera di semua front, jaminan kebebasan navigasi di Teluk dan Selat Hormuz, dan dimulainya negosiasi mengenai isu-isu yang belum terselesaikan dalam waktu satu minggu.
Dari domestik, para pelaku pasar akan mencermati perilisan transaksi berjalan pada triwulan I-2026 yang diprediksikan hanya defisit sebesar US$0,8 miliar.
"Perkiraan defisit ini mengindikasikan bahwa pasokan valas dari hasil ekspor barang Indonesia sebenarnya masih sangat kokoh menahan gempuran beban impor dan pembayaran jasa eksternal. Selain itu, juga memberikan sinyal kepada dunia bahwa ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap tangguh menghadapi volatilitas harga komoditas global," kata Nafan dalam risetnya.
Apabila rilis data riil dari Bank Indonesia nanti sesuai prediksi, maka hal ini akan menjadi katalis fundamental yang sangat kuat untuk meredam kepanikan pasar.
