Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat pada Rabu (11/3), setelah ditutup naik 1,41 persen ke level 7.440,9 kemarin (10/3) sore.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG berpotensi menguji resisten di 7.500. Jika berhasil ditembus, penguatan dapat berlanjut menuju 7.580–7.700.
"Namun pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, di tengah penolakan Iran terhadap gencatan senjata," kata Reza dalam riset hariannya.
Selain itu, pasar pun menanti rilis inflasi AS Februari 2026 yang diperkirakan 2,4 persen (YoY) dengan core CPI 2,5 persen (YoY), sebagai indikator arah kebijakan The Fed.
Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini, meliputi: INDY, ARCI, dan NCKL.
Kemarin, IHSG menguat didorong rebound teknikal setelah koreksi tajam sebelumnya serta membaiknya sentimen global. Penguatan turut dipengaruhi penurunan harga minyak, penguatan bursa global, serta pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi meredanya konflik AS–Israel dengan Iran.
Dari domestik, penjualan ritel Indonesia tumbuh 5,7 persen (YoY) pada Januari 2026, naik dari 3,5 persen (YoY) pada Desember 2025.
Sementara itu, tim Mirae Asset Sekuritas menilai, secara teknikal IHSG berhasil rebound dari wave C/(W), mengingat indikator RSI sudah menunjukkan oversold.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, pasar membutuhkan kepastian terkait kapan konflik di Iran akan berakhir. Meskipun Presiden Trump menyatakan bahwa perang bisa segera berakhir, pertempuran tidak menunjukkan tanda-tanda melambat, apalagi AS masih melakukan serangan udara terhadap Iran hingga saat ini.
Sementara itu, market juga menantikan hasil perilisan berbagai data inflasi AS per Februari 2026 yang diproyeksikan tetap stabil di kisaran 2,4 persen-2,5 persen.
"Dengan demikian, market menilai bahwa sticky inflation masih terjadi, apalagi berupa energy driven inflation akibat dinamika di Kawasan Timur Tengah, sehingga The Fed kemungkinan tetap bersikap wait and see pada FOMC Maret," kata Nafan dalam riset hariannya.
Dari domestik, market menaruh perhatian pada tekanan pada defisit anggaran, penurunan outlook kredit dari stabil menjadi negatif, hingga kebijakan prioritas belanja pemerintah. Hal itu mencerminkan kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan keberlanjutan utang Indonesia. Namun selama defisit terkendali dan pertumbuhan ekonomi tetap solid, maka risiko sistemik terhadap ekonomi Indonesia masih relatif terbatas.
Daftar saham pilihannya hari ini, yakni: BRMS, NCKL, dan TAPG.
