Jakarta, FORTUNE - PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) harus menerima kenyataan pahit sepanjang 2025. Emiten properti ini melaporkan penurunan kinerja cukup telak, baik dari sisi pendapatan neto maupun laba bersih.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan neto SMRA terkoreksi sebesar 17,47 persen (YoY) menjadi hampir Rp8,77 triliun, turun dari capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,62 triliun.
Melandainya pundi-pundi perusahaan ini dipicu oleh lesunya segmen andalan mereka, yakni pengembangan properti, yang melorot dari Rp7,5 triliun menjadi Rp5,5 triliun. Tak hanya itu, lini rekreasi dan perhotelan pun tak kuasa menanjak, dengan raihan yang turun tipis dari Rp518,26 miliar menjadi Rp510,48 miliar.
Ironisnya, penyusutan pendapatan ini tidak dibarengi dengan efisiensi di semua lini. Kendati manajemen berhasil menekan beban pokok penjualan dan beban langsung dari Rp5,16 triliun menjadi Rp4,37 triliun, pos-pos pengeluaran lain justru membengkak. Kenaikan biaya terpantau pada beban penjualan, beban umum dan administrasi, hingga beban operasi lain serta pajak penghasilan neto.
Kombinasi antara pendapatan yang menciut dan beban yang meninggi ini membuat laba bersih SMRA tertekan hingga 44,19 persen (YoY). Sepanjang 2025, perseroan hanya mampu mengantongi laba bersih Rp766,55 miliar, terjun bebas dari posisi Rp1,37 triliun pada 2024.
Walhasil, laba per saham dasar pun ikut merosot dari Rp83,19 menjadi Rp46,43.
Kendati keuntungan sedang layu, dari sisi neraca, Summarecon tampak sedang mempertebal otot asetnya. Total aset perseroan tercatat mendaki menjadi Rp38,34 triliun pada akhir 2025, dibandingkan dengan posisi akhir 2024 yang senilai Rp33,53 triliun.
Seiring dengan itu, liabilitas turut terkerek menjadi hampir Rp22,34 triliun, sementara ekuitas tumbuh menjadi Rp16 triliun.
Gairah ekspansi perusahaan memang belum padam. Baru-baru ini, SMRA merogoh kocek hingga Rp400 miliar untuk meresmikan Harris Hotel & Convention Serpong. Namun, langkah ekspansif ini tampaknya belum cukup sakti untuk memikat pelaku pasar di lantai bursa.
Pada perdagangan Senin (16/3), harga saham SMRA ditutup melemah 1,20 persen ke level Rp328 per lembar. Data IDX Mobile menunjukkan volume transaksi mencapai 15,4 juta saham dengan nilai Rp5,09 miliar dari 968 kali frekuensi perdagangan.
Jika ditarik dalam rentang satu bulan terakhir, performa saham SMRA telah memucat dengan koreksi sedalam 17,59 persen.
