Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Peretasan Kripto Melonjak Tajam, Kerugian Global Rp883 Miliar
ilustrasi kripto (unsplash.com/Traxer)

Jakarta, FORTUNE - Lonjakan serangan siber kembali menghantam ekosistem aset digital pada Maret 2026. Laporan terbaru dari perusahaan keamanan blockchain, PeckShield, menunjukkan nilai kerugian akibat peretasan kripto meningkat tajam dibanding bulan sebelumnya.

Sepanjang Maret, kerugian dari berbagai insiden keamanan tercatat mencapai sekitar US$52 juta atau setara Rp883,7 miliar (asumsi kurs Rp16.994 per dolar AS). Angka tersebut naik sekitar 96 persen dibandingkan Februari, ketika total kerugian tercatat sekitar US$26,5 juta.

Laporan tersebut juga menyoroti kemunculan fenomena baru yang disebut “penularan bayangan.” Istilah ini menggambarkan dampak lanjutan dari sebuah peretasan yang tidak hanya merugikan target utama, tetapi juga merambat ke berbagai protokol DeFi (decentralized finance) lainnya. Efeknya dapat berupa gangguan likuiditas hingga munculnya piutang macet pada platform yang sebenarnya tidak menjadi target serangan.

Selain itu, peneliti keamanan mencatat setidaknya 20 kasus eksploitasi kripto. Para analis melihat pola baru di mana satu serangan kini mampu memicu dampak berantai di berbagai platform lain, termasuk pasar pinjaman kripto dan sistem likuiditas lintas protokol.

Salah satu insiden terbesar menimpa platform DeFi ResolvLabs. Peretas memanfaatkan celah pada sistem manajemen kunci AWS sehingga mampu mencetak 80 juta token USR secara tidak sah. Serangan ini menyebabkan kerugian sekitar US$25 juta dan berdampak pada sejumlah protokol lain seperti MorphoBlue, Euler Finance, serta Fluid Protocol dalam bentuk piutang bermasalah.

Kasus lain terjadi pada Venus Protocol ketika pelaku mengeksploitasi celah di pasar THE Token. Penyerang berhasil menaikkan nilai jaminan melebihi batas yang diizinkan dan meminjam hampir US$15 juta aset kripto.

Walau awalnya kerugian disebut sekitar US$3,7 juta, penelusuran data on-chain kemudian menunjukkan pelaku justru mengalami kerugian lebih dari US$4 juta. Meski demikian, insiden tersebut tetap meninggalkan piutang macet sekitar US$2,18 juta dalam sistem.

Selain menyasar protokol DeFi, peretas juga menargetkan individu dengan nilai kerugian besar. Salah satu kasus melibatkan tokoh daring Sillytuna, yang kehilangan aset kripto senilai sekitar US$24 juta setelah mengalami kombinasi paksaan fisik dan manipulasi kontrak pintar.

Insiden lain terjadi pada seorang investor besar (“whale”) di platform kripto Kraken. Korban dilaporkan kehilangan sekitar US$18 juta dalam bentuk ETH akibat serangan rekayasa sosial. Data on-chain menunjukkan pelaku memindahkan sebagian dana melalui THORChain sebelum menyebarkannya ke berbagai platform lain.

Memasuki awal April, peneliti keamanan kembali mencatat sejumlah insiden baru, termasuk serangan terhadap Cyrus Finance senilai sekitar US$5 juta serta platform Solv Protocol sebesar US$2,7 juta.

Kerugian bahkan melonjak lebih besar ketika Drift Protocol di jaringan Solana mengalami eksploitasi sekitar US$285 juta atau setara Rp4,8 triliun. Peneliti menyebut serangan tersebut diduga merupakan bagian dari skema yang telah disiapkan sejak Maret.

Setelah insiden tersebut, penyelidik blockchain ZachXBT melontarkan kritik terhadap Circle. Ia menyoroti bagaimana pelaku dapat memindahkan dana dalam bentuk USD Coin dari jaringan Solana ke Ethereum melalui sekitar 100 transaksi tanpa terdeteksi lebih awal.

Editorial Team