Jakarta, FORTUNE - Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia atau Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mencatat perputara transaksi emas fisik yang diperdagangkan secara digital telah mencapai 58,65 ton pada 2025. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan 2024 yang sebesar 46 ton.
Direktur ICDX Nursalam mengatakan, dalam kondisi harga komoditas yang berfluktuasi karena berbagai faktor, mekanisme lindung nilai ini sangat diperlukan para pelaku usaha dengan bisnis jangka panjang. Bahkan, pada dua bulan pertama 2026, perputaran transaksi emas digital sudah mencapai 21 ton.
"Trennya naik signifikan karena orang menangkap peluang ketika harga itu berfluktuasi," ujar Nursalam di Jakarta, Rabu (111/3).
Selain emas fisik yang dijual secara digital, ICDX juga memiliki perdagangan kontrak emas secara multilateral. Per akhir tahun lalu transaksinya mencapai 1.627.698 lot.
Saat ini kontrak berjangka komoditas emas di ICDX didominasi oleh kontrak GOLDUDMic dengan transaksi sebanyak 682.310 lot. GOLDUDMic merupakan versi mikro dari kontrak GOLDUD dengan ukuran 1/100 dari kontrak standar. Minimum transaksi adalah 1 lot mikro (setara 0,01 kontrak GOLDUD). Ukuran kontrak yang lebih kecil membuat transaksi emas berbasis US$ lebih terjangkau, namun tetap memberikan eksposur terhadap pergerakan harga emas global yang mengacu pada pasar Loco London.
Sedangkan GOLDUD merupakan kontrak gulir harian emas dalam denominasi US$ yang diperdagangkan di bursa dengan ukuran kontrak sebesar 10 troy ounce per lot. Kontrak ini mengacu pada harga emas di pasar internasional Loco London dengan tingkat kemurnian 99,99 persen, sehingga mencerminkan pergerakan harga emas global.
Analis dari Research and Development ICDX, Tiffani Safinia menjelaskan sejak tahun lalu komoditas emas mengalami kenaikan signifikan dan menyentuh 53 all time high. Hal ini mendorong instrument tersebut diburu di tengah ketidakpastian global.
"Selain itu total pembelian emas oleh Bank Sentral AS hanya mencapai sekitar 863 ton, lebih rendah dibandingkan pada periode 2022–2024, serta Pergerakan dolar AS yang cenderung volatile turut meningkatkan alokasi ke emas," katanya pada gelaran outlook komoditas di Jakarta, (11/3).
Dalam jangka pendek, ia memprediksi pergerakan emas masih dipengaruhi dinamika dolar AS, imbal hasil obligasi, dan perkembangan konflik global. Namun secara keseluruhan, harga emas diproyeksikan berada di kisaran US$5.500–US$6.000 per troy ons hingga akhir tahun 2026, dengan volatilitas yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Berdasarkan poll Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional, Untuk tahun 2026 median proyeksi harga emas untuk 2026 berada di US$4.746,50 per troy ons, melonjak signifikan dibanding estimasi US$4.275 yang dirilis pada Oktober sebelumnya.
